Sembilan bulan tinggal di Ende, hanya sekali aku jalan-jalan dengan angkutan kota yang ada disana. Biasanya sih, kemana-mana naik motor. Waktu itu terpaksa, karena suami tidak bisa mengantar ke pasar murah hari Jumat di Wolowona. Rame-rame dengan para istri lainnya, aku ke Wolowona untuk berbelanja bahan makanan sehari-hari naik angkot Ende yang full music. Lagu daerah atau lagu masa kini diputar dengan kencang dan berdentum-dentum, seperti diperdengarkan pada orang tuli gitu. Bising bukan buatan. Lama-lama bisa bikin kepala pusing. Memang seperti itulah rata-rata angkot di kota ini, berlomba-lomba memutar musik dengan sound yang bisa membangkitkan mayat dalam kubur ;). Sudah begitu, sopirnya ngebut lagi. Mati-matian kami bertahan dalam suasana yang amat sangat crowded itu selama 15 menit. Kami kuat-kuatkan hingga sampai di komplek rumah dinas kantor suami. Begitu turun, hhh.. lega. Itulah, mengapa kami jadi kapok naik angkot.
Konon, kalau sebuah angkot melintas di depan anak-anak sekolah tanpa musik menghentak-hentak, angkot itu tidak akan dilirik (dilirik aja enggak, apalagi dinaiki). Bagi anak muda disana, seperti para pelajar itu, angkot yang nyetel musik heboh adalah angkot yang keren dan layak untuk dijadikan kendaraan pulang ke rumah. Mungkin itu salah satu alasannya, mengapa angkot di Ende musiknya kenceng-kenceng.

