Translate

Tampilkan postingan dengan label fiksiku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fiksiku. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 02 Mei 2015

[Cerpen] Dua Wanita





Fira
Mataku masih terpaku menatap layar laptop. Sejam lebih aku duduk di kafe ini. Muffin yang kupesan hangat-hangat tadi berangsur mendingin. Tak secuil pun bagiannya kusentuh. Demikian pula dengan secangkir coklat panas favoritku.
Aku sering ke kafe ini. Duduk berjam-jam di kursi paling pojok untuk menulis. Tapi apa yang tak sengaja kutemukan ketika membuka facebook mengalihkan konsentrasiku. Niat menulis perlahan menguap, berganti penasaran yang tak berujung.
Hatiku berdenyar. Foto hasil tag di wall seorang teman mengajak jari-jariku menjelajah, dan berhenti di facebook seseorang yang amat kukenal.
Foto keluarga besar itu melempar ingatanku ke sepuluh tahun lampau. Aku pernah mengenal wajah-wajah yang terpampang di foto itu: Mbak Tisha, Mbak Nita, Mas Ari, dan… Deni. Tapi, ada satu wajah yang tak pernah kukenal, seorang wanita berkebaya putih yang berpose di sebelah Deni.
Oh, seharusnya aku yang berdiri di antara mereka, bukan dia! Tiba-tiba kemarahan menggelegak di dadaku. Hey, kenapa aku cemburu begini? Bukannya kehidupanku saat ini sudah demikian sempurna? Aku bukan lagi Fira yang dulu, yang tidak punya apa pun yang bisa dibanggakan. Sekarang aku punya semua: popularitas, limpahan materi, rumah, mobil, apalagi?

Jumat, 07 Maret 2014

Kinar



Masih dalam rangka Hari Perempuan Sedunia 8 Maret, saya sengaja memosting tulisan yang bertema "perempuan", sebagai kado untuk para perempuan :). Kali ini dalam bentuk cerpen. Cerpen ini belum pernah dimuat di media manapun. Idenya berdasarkan kisah nyata. Cerpen ini saya tulis karena saya prihatin terhadap nasib beberapa perempuan di sekitar kehidupan saya. Selamat membaca, semoga bermanfaat :)

Jumat, 08 Maret 2013

Flash Fiction: Demi Sepotong Pizza

Ini adalah Flash Fiction (FF) yang saya tulis dua tahun lalu. FF ini berhasil meraih juara 1 lomba menulis FF based on film Rindu Purnama yang diadakan Forum Penulis Bacaan Anak tahun 2011


Restoran fast food di pojok sana kembali menggodaku. Pizza. Makanan kesukaaan kura-kura ninja yang sering kutonton di tv Bang Gayus itu sepertinya enak.

 “Dul, pinjam kaus dan sepatumu!” pintaku pada kawanku Dul yang sepatu bekasnya lumayan. Segera kuganti kaus dan sandal bututku, kutitipkan koran daganganku, lalu berlari ke restoran pizza yang siang itu lumayan ramai.

Kamis, 29 Januari 2009

Pelajaran Buat Nanda

                                                                                

   Cerpen: R.F Dhonna

“Banguuuun!” teriak Tweety kencang. “Banguuun, Nanda!” serunya sekali lagi. Percuma, Nanda tak bergeming. Tweety berteriak untuk ketiga kalinya, dilanjutkan teriakan keempat, kelima… yup! Nanda mulai menggeliat. Tweety bersorak girang.
Nanda membuka matanya perlahan, lalu dipukulnya Tweety dengan gemas hingga, “AUW!” Tweety terpelanting ke kolong tempat tidur.
“Aduh… sakit…,” ratap Tweety pelan. “Katanya  minta dibangunin jam lima. Udah dibangunin sampai pita suaraku hampir putus, eh, nggak dipeduliin,  malah dapat pukulan lagi. Hu… hu…,” gerutu si pipi gembul itu sambil menangis.
“Ada apa lagi, Ty?” ternyata di kolong itu ada Casio.
“HWA…!” ditanya begitu, tangis Tweety semakin keras. “Aku dipukul lagi, padahal aku sudah menjalankan tugasku dengan baik…,” adunya pada Casio.
“Sudahlah, kamu nggak sendiri. Nasib kita sama, Ty. Kita cuma bisa mengingatkan Nanda. Kalau toh, nanti Nanda mengalami kejadian buruk, itu bukan kesalahan kita. Yang penting, kita sudah mengingatkan,” ucap Casio bijaksana.
“Tapi aku kasihan sama Nanda. Lama-lama dia bisa jadi pemalas.”
“Iya sih, tapi kita bisa apa?” sejenak keduanya berpikir.
“Bagaimana kalau kita beri dia pelajaran?” cetus Tweety.
“Maksud kamu?” Casio balik bertanya. Tweety segera membisikkan idenya itu ke telinga Casio. Casio tampak manggut-manggut.

Si Cantik Sharma


                    
Oleh: RF.Dhonna
Pada sebuah desa kecil di India, hidup seorang wanita bersama putri semata wayangnya yang cantik jelita, namanya Sharma. Kecantikannya terkenal di seluruh pelosok desa. Gadis itu gemar bersolek. Setiap hari dia tak pernah lepas Dari sebuah cermin kecil yang selalu dibawanya kemanapun ia pergi.
Sebenarnya tak sedikit pemuda yang ingin memperistri Sharma. Tetapi akhirnya mereka mengurungkan niatnya. Melihat hal ini, sang Ibu khawatir dengan nasib putrinya yang tak kunjung mendapatkan pendamping hidup.
Pada suatu hari, ada seorang pemuda Dari desa seberang yang ingin melamar Sharma. Dia seorang pemuda yang tampan, kaya, dan baik hati. Ibu Sharma sangat bersuka cita mendengarnya. Pagi buta, sang Ibu sudah pergi ke pasar untuk membeli bahan-bahan makanan. Ia ingin menjamu pemuda itu.
Ibu Sharma segera meminta bantuan Tuan Karan, tetangganya, untuk menangkapkan ikan tuna di sungai depan rumahnya. Ia akan mengolah ikan itu menjadi masakan yang lezat dan istimewa.
“Sharma, ibu akan ke pasar. Kau bisa membantu ibu memasak ikan tuna dengan kuali ini kan?” kata sang Ibu sebelum berangkat. Mata gadis itu terbelalak melihatnya.
“I-iya, Bu,” Sharma tergagap. Dia bingung, bagaimana mungkin ikan sebesar dan sepanjang lengan manusia itu dimasak dalam kuali kecil?
Sepeninggal sang Ibu, Sharma tidak tahu apa yang pertama kali harus dilakukannya. Gadis itu berjalan mondar-mandir, duduk lama-lama memandangi kuali dan ikan tuna dihadapannya secara bergantian, lalu bangkit dan duduk lagi. Sampai akhirnya ia menemukan sebuah ide. Lalu Sharma meninggalkan ikan itu tergeletak di atas meja dapur.
“Nyonya, apakah Anda punya kuali panjang?” tanya Sharma kepada Nyonya Kana, tetangga sebelah rumahnya.
Kening wanita itu berkerut, sebelum akhirnya mengatakan tidak punya.
Sharma mencoba mendatangi rumah tetangganya yang lain. Kali ini dia ke rumah Nenek Shanggita. Sharma langsung menuju dapur nenek tua itu.

Rabu, 28 Januari 2009

Perempuan-perempuan yang Menemuiku

Cerpen: R.F Dhonna

Seorang ibu termangu di sebuah bangku panjang, tepat di bawah pohon asam. Perempuan itu menanti putrinya pulang sekolah di bawah pohon yang ditanam di samping kanan gerbang sekolah dua puluh tahun yang lalu. Sembari menunggu, ia akan bercakap-cakap dengan beberapa orang pedagang kaki lima yang sudah lama dikenalnya akrab, yaitu sejak putrinya yang kini berusia lima belas tahun itu baru menjadi siswa sekolah ini. Karena itulah ia keasyikan, tak pernah bosan atau mengeluh, walaupun setiap hari harus antar-jemput putrinya sekolah. Tak hanya sekolah, tetapi juga aktivitas lain. Mulai kegiatan ekstrakurikuler, les renang, les modelling, dan kursus bahasa Inggris. Semua dilakukannya sendiri, tanpa sopir pribadi.
Aku juga termasuk salah seorang yang sering diajaknya bicara. Perempuan itu akan menemuiku di ujung trotoar bila merasa membutuhkanku. Ia akan segera  duduk bersila sepertiku, menatap lalu lalang kesibukan pengguna jalan di hadapan kami, lalu mulai berkisah tentang buah hatinya yang sangat ia banggakan.