Translate

Tampilkan postingan dengan label cerita anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita anak. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 Mei 2013

Monster Jagung





Ini adalah dongeng saya yang dimuat di Majalah Bobo no. 49, Maret 2013. Saya mengirim cerita ini pertengahan Juni 2012. Ide cerita ini saya dapatkan setelah saya membaca (ulang) dongeng Kebun Pak Quink karya Enid Blyton. Oke deh, Selamat membaca, semoga bermanfaat ^_^

Monster Jagung
Oleh: RF.Dhonna

Sabtu, 18 Mei 2013

Si Cerdik Jadik


Selamat pagi...
Hari ini saya posting lagi dongeng saya yang dimuat di Majalah Bobo. Saya mengirim cerita ini bulan Mei 2012 dan dimuat di edisi 51 Maret 2013. Ide cerita ini saya dapatkan saat saya membaca cerita lucu di sebuah majalah. Cerita ini sangat istimewa bagi saya, karena keinginan saya menjadikan desa tempat saya dibesarkan sebagai setting dongeng akhirnya terwujud (horeeee!) 
Oke deh, Selamat membaca, semoga bermanfaat ^_^

Jumat, 12 April 2013

Ayo Bermain, Farel!



Suatu siang Raya, putri kecil saya, menangis. Balonnya lepas digunting temannya saat bermain. Eh, dapat inspirasi nulis dongeng tentang balon. jadilah "Ayo Bermain, Farel!", dongeng 300 kata yang dimuat di Majalah Bobo no.12, terbit 28 Juni 2012. Saya mengirim cerita ini tanggal 16 Januari 2012. Jadi masa tunggunya sekitar 6 bulan ^^

Kamis, 29 Januari 2009

Pelajaran Buat Nanda

                                                                                

   Cerpen: R.F Dhonna

“Banguuuun!” teriak Tweety kencang. “Banguuun, Nanda!” serunya sekali lagi. Percuma, Nanda tak bergeming. Tweety berteriak untuk ketiga kalinya, dilanjutkan teriakan keempat, kelima… yup! Nanda mulai menggeliat. Tweety bersorak girang.
Nanda membuka matanya perlahan, lalu dipukulnya Tweety dengan gemas hingga, “AUW!” Tweety terpelanting ke kolong tempat tidur.
“Aduh… sakit…,” ratap Tweety pelan. “Katanya  minta dibangunin jam lima. Udah dibangunin sampai pita suaraku hampir putus, eh, nggak dipeduliin,  malah dapat pukulan lagi. Hu… hu…,” gerutu si pipi gembul itu sambil menangis.
“Ada apa lagi, Ty?” ternyata di kolong itu ada Casio.
“HWA…!” ditanya begitu, tangis Tweety semakin keras. “Aku dipukul lagi, padahal aku sudah menjalankan tugasku dengan baik…,” adunya pada Casio.
“Sudahlah, kamu nggak sendiri. Nasib kita sama, Ty. Kita cuma bisa mengingatkan Nanda. Kalau toh, nanti Nanda mengalami kejadian buruk, itu bukan kesalahan kita. Yang penting, kita sudah mengingatkan,” ucap Casio bijaksana.
“Tapi aku kasihan sama Nanda. Lama-lama dia bisa jadi pemalas.”
“Iya sih, tapi kita bisa apa?” sejenak keduanya berpikir.
“Bagaimana kalau kita beri dia pelajaran?” cetus Tweety.
“Maksud kamu?” Casio balik bertanya. Tweety segera membisikkan idenya itu ke telinga Casio. Casio tampak manggut-manggut.

Si Cantik Sharma


                    
Oleh: RF.Dhonna
Pada sebuah desa kecil di India, hidup seorang wanita bersama putri semata wayangnya yang cantik jelita, namanya Sharma. Kecantikannya terkenal di seluruh pelosok desa. Gadis itu gemar bersolek. Setiap hari dia tak pernah lepas Dari sebuah cermin kecil yang selalu dibawanya kemanapun ia pergi.
Sebenarnya tak sedikit pemuda yang ingin memperistri Sharma. Tetapi akhirnya mereka mengurungkan niatnya. Melihat hal ini, sang Ibu khawatir dengan nasib putrinya yang tak kunjung mendapatkan pendamping hidup.
Pada suatu hari, ada seorang pemuda Dari desa seberang yang ingin melamar Sharma. Dia seorang pemuda yang tampan, kaya, dan baik hati. Ibu Sharma sangat bersuka cita mendengarnya. Pagi buta, sang Ibu sudah pergi ke pasar untuk membeli bahan-bahan makanan. Ia ingin menjamu pemuda itu.
Ibu Sharma segera meminta bantuan Tuan Karan, tetangganya, untuk menangkapkan ikan tuna di sungai depan rumahnya. Ia akan mengolah ikan itu menjadi masakan yang lezat dan istimewa.
“Sharma, ibu akan ke pasar. Kau bisa membantu ibu memasak ikan tuna dengan kuali ini kan?” kata sang Ibu sebelum berangkat. Mata gadis itu terbelalak melihatnya.
“I-iya, Bu,” Sharma tergagap. Dia bingung, bagaimana mungkin ikan sebesar dan sepanjang lengan manusia itu dimasak dalam kuali kecil?
Sepeninggal sang Ibu, Sharma tidak tahu apa yang pertama kali harus dilakukannya. Gadis itu berjalan mondar-mandir, duduk lama-lama memandangi kuali dan ikan tuna dihadapannya secara bergantian, lalu bangkit dan duduk lagi. Sampai akhirnya ia menemukan sebuah ide. Lalu Sharma meninggalkan ikan itu tergeletak di atas meja dapur.
“Nyonya, apakah Anda punya kuali panjang?” tanya Sharma kepada Nyonya Kana, tetangga sebelah rumahnya.
Kening wanita itu berkerut, sebelum akhirnya mengatakan tidak punya.
Sharma mencoba mendatangi rumah tetangganya yang lain. Kali ini dia ke rumah Nenek Shanggita. Sharma langsung menuju dapur nenek tua itu.

Selasa, 27 Januari 2009

Mimpi Evan

              
Cerpen: R.F.Dhonna*
Pagi-pagi sekali Evan sudah berangkat ke sekolah. Sebelum bel masuk berbunyi, dia harus sampai kelas. Evan berusaha untuk tidak terlambat lagi seperti biasanya. Dia kapok disuruh meringkas buku. Meski demikian, ternyata hari itu Evan tetap menerima hukuman. Kali ini bukan karena terlambat, tetapi karena tidak mengerjakan pe-er!
”Kamu kok senang sih, dihukum?” tanya Ali, teman sebangkunya.
”Aku lupa, Al,” jawab Evan.
”Lupa atau malas?” tanya Ali sekali lagi. Evan merengut kesal. Ia tak terima jika ada yang mengatainya pelupa atau pemalas. Karena itu, Evan memilih tak menjawabnya. Ia segera pergi ke kebun belakang sekolah, melaksanakan hukuman dari Bu Ratri: mencabuti rumput liar yang tumbuh subur di sela-sela tanaman jahe.
”Huh, kayak tukang kebun saja! Mending disuruh meringkas buku daripada kotor-kotor begini!” rutuk Evan seraya memegang jijik rumput-rumput yang bertanah tebal. ”Ada-ada saja Bu Ratri, bikin peraturan seenaknya!”
 Sambil membersihkan rumput yang panjang-panjang itu, Evan terus mengomel. Tanpa disadarinya, berpasang-pasang mata tengah memperhatikannya.

Senin, 19 Mei 2008

Ulang Tahun Anggi


Cerpen RF.Dhonna
Anggi memandangi kebun bunga di belakang rumahnya. Hmm, cukup luas juga. Pasti asyik kalau ulang tahunnya nanti dirayakan di sini, seperti usul Tity, teman dekatnya.
“Nggi, daripada kamu pusing mikirin acara kayak apa yang cocok buat ultah kamu, mending nyontek Inge deh, pesta kebun,” usul Tity tadi siang di sekolah.
“Hah, nyontek pestanya Inge? Mending aku nggak ngadain pesta sekalian,” jawab Anggi ketus. Dia nggak mau nyontek pesta rivalnya sebulan yang lalu.
“Waktunya mepet non, tiga hari lagi!” kata cewek berpipi tembem itu semangat.
“Ah, kamu nggak ngerti sih.”
“Kenapa, Aksan? Dengerin ya, kalau Aksan emang suka sama kamu, dia pasti bakal milih kamu daripada Inge.”
“Jangan sok tahu, ah,” timpal Anggi.
Kini ia telah berubah pikiran, segudang rencana telah tersusun rapi di kepalanya.