Translate

Tampilkan postingan dengan label tulisan juara lomba. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tulisan juara lomba. Tampilkan semua postingan

Senin, 21 November 2016

Nyala untuk Pejuang Literasi Kaltim*

Tri Wahyuni Zuhri saat menerima penghargaan Kartini Next Generation Award 2015 di Jakarta
(Foto: dok. Tri Wahyuni Zuhri)

Siang itu, di tengah keriuhan sebuah pusat perbelanjaan Kota Samarinda, seorang perempuan yang terbaring di atas tempat tidur beroda didorong masuk gedung oleh beberapa petugas medis melalui tangga berjalan. Didampingi keluarga dan para sahabat, ia tampak menarik perhatian pengunjung yang sedang berbelanja. Mungkin di benak mereka bertanya-tanya, “Orang sakit kok masuk mall?”

Sabtu, 02 Mei 2015

[Cerpen] Dua Wanita





Fira
Mataku masih terpaku menatap layar laptop. Sejam lebih aku duduk di kafe ini. Muffin yang kupesan hangat-hangat tadi berangsur mendingin. Tak secuil pun bagiannya kusentuh. Demikian pula dengan secangkir coklat panas favoritku.
Aku sering ke kafe ini. Duduk berjam-jam di kursi paling pojok untuk menulis. Tapi apa yang tak sengaja kutemukan ketika membuka facebook mengalihkan konsentrasiku. Niat menulis perlahan menguap, berganti penasaran yang tak berujung.
Hatiku berdenyar. Foto hasil tag di wall seorang teman mengajak jari-jariku menjelajah, dan berhenti di facebook seseorang yang amat kukenal.
Foto keluarga besar itu melempar ingatanku ke sepuluh tahun lampau. Aku pernah mengenal wajah-wajah yang terpampang di foto itu: Mbak Tisha, Mbak Nita, Mas Ari, dan… Deni. Tapi, ada satu wajah yang tak pernah kukenal, seorang wanita berkebaya putih yang berpose di sebelah Deni.
Oh, seharusnya aku yang berdiri di antara mereka, bukan dia! Tiba-tiba kemarahan menggelegak di dadaku. Hey, kenapa aku cemburu begini? Bukannya kehidupanku saat ini sudah demikian sempurna? Aku bukan lagi Fira yang dulu, yang tidak punya apa pun yang bisa dibanggakan. Sekarang aku punya semua: popularitas, limpahan materi, rumah, mobil, apalagi?

Selasa, 20 Mei 2014

[Resensi] Belajar dari Para Petualang



Judul Buku: Traveler's Wisdom, Kutipan Keren untuk Teman Bertualang
Penulis: Tim Wesfix
Penerbit: Grasindo
Harga: Rp 50.000,00

Sebuah perjalanan biasanya memiliki tujuan, entah itu hanya untuk bersenang-senang menikmati pemandangan alam, melepas penat, ingin merasakan pengalaman baru, dsb. Perjalanan membuat seseorang berpikir lebih terbuka dan lebih bijaksana dalam melihat dunia.

Minggu, 30 Maret 2014

Samarinda, Pertambangan, dan Banjir







Samarinda dan banjir, adalah dua hal yang seolah tak terpisahkan lagi. Dari waktu ke waktu, dari penguasa lama hingga ganti penguasa, permasalahan banjir tetap tidak teratasi. Entah sejak kapan ibukota Kalimantan Timur ini langganan banjir. Yang pasti sejak saya menginjakkan kaki di kota ini pada 2008 silam, sejak itu pula saya berkenalan dengan banjir. Rumah kontrakan saya pernah terendam air bah akibat hujan deras dan polder jebol pada Juni 2008. Saya pernah menulis ceritanya di blog ini. Seumur-umur, baru kali itu saya menjadi korban banjir. Peristiwa itu membuat saya sangat trauma. Saya sekeluarga pun cepat-cepat pindah dari sana dan mencari rumah kontrakan yang aman dari jangkauan banjir.

Jumat, 07 Februari 2014

Tentang Seseorang yang Mendukung Saya




*Sebelumnya, maaf kalau tulisan ini mungkin sedikit lebay, karena saya memang sedang ingin berlebay ria ;)

Tiba-tiba hari ini saya ingin menulis ini. Gara-garanya, ada seseorang yang menginbox saya dengan pertanyaan, “Siapa yang paling mendukung karier menulis Mbak selama ini?”

Menjawab pertanyaan itu, saya jadi teringat 13 tahun lalu, saat merintis ‘jalan’ di dunia kepenulisan. Waktu itu, tulisan pertama saya dimuat di media lokal Lumajang. Meski honornya hanya sepuluh ribu rupiah, tapi senengnya bukan main! Honor pemuatan itu harus diambil langsung ke kantor redaksi media itu. Saya pun bingung, minta antar siapa ya? Saya nggak tahu kantornya dimana. Maklum, anak rumahan yang jarang ngelayap ;). Lalu seseorang menawarkan diri mengantar saya, padahal dia nggak tahu juga dimana kantor media itu, hahaha. Singkat cerita, kami pun mencarinya bersama-sama. Setelah muter-muter nggak karuan, akhirnya kantor media yang letaknya nyempil itu ketemu juga. Saat mengambil honor menulis pertama itulah, saya merasa ada sebuah dukungan dari seseorang itu *cieeeh..

Jumat, 08 Maret 2013

Flash Fiction: Demi Sepotong Pizza

Ini adalah Flash Fiction (FF) yang saya tulis dua tahun lalu. FF ini berhasil meraih juara 1 lomba menulis FF based on film Rindu Purnama yang diadakan Forum Penulis Bacaan Anak tahun 2011


Restoran fast food di pojok sana kembali menggodaku. Pizza. Makanan kesukaaan kura-kura ninja yang sering kutonton di tv Bang Gayus itu sepertinya enak.

 “Dul, pinjam kaus dan sepatumu!” pintaku pada kawanku Dul yang sepatu bekasnya lumayan. Segera kuganti kaus dan sandal bututku, kutitipkan koran daganganku, lalu berlari ke restoran pizza yang siang itu lumayan ramai.

Senin, 01 Februari 2010

Togar

                                           
Suasana masih lengang ketika Danesh menyusuri lahan parkir di kawasan komplek pertokoaan Betiri. Lalu lalang kendaraan belum terlalu padat. Beberapa pedagang kaki lima tampak mulai berbenah. Masih terlalu pagi memang.
Danesh duduk menunggu di sebuah sudut, tepat di sebelah Betiri Mall yang berdiri megah di kawasan komplek itu.
Matahari hampir di atas kepala. Berkali-kali Danesh melongokkan kepala. Seseorang yang berjanji akan menemuinya di tempat itu belum juga muncul.
Danesh sudah hampir meninggalkan tempat itu ketika tiba-tiba terdengar suara khas yang memanggil namanya. Itu dia yang ditunggunya. Seorang pemuda berambut gondrong, berusia sekitar tujuh belas tahunan. Penampilannya dekil dengan pakaian compang-camping. Itulah Togar, seorang preman jalanan yang dikenalnya beberapa bulan lampau.
Sambil mengeluarkan sebungkus nasi dan sebuah radio dari tas ranselnya, Danesh menghampiri Togar. Diulurkannya benda itu, tapi…