Translate

Kamis, 20 September 2012

Jangan Anggap Enteng Demam!



                                               Tetap ceria meski tangan diinfus: saat masuk RS untuk kedua kalinya.

Pagi itu ada yang tak biasa pada tingkah laku si kecil Raya. Biasanya begitu bangun dia langsung turun dari kasur dan menghampiri saya di dapur.  Hari itu meski sudah bangun Raya seperti enggan beranjak. Sampai saya selesai masak pun, dia tetap telentang di kasur. Saya perhatikan wajahnnya lesu, gerakannya melemah, dan ocehannya nggak terdengar sama sekali. Saya raba dahinya, astaga, panas!
Saat itu Raya masih berumur 11 bulan, pertama kali mengalami demam tinggi. Saya periksa suhu tubuhnya dengan termometer. Hasilnya, 39 derajat celcius! Dalam keadaan panik, saya langsung memberinya obat penurun panas menggunakan oral drop.
Pagi berikutnya, suhu tubuh Raya agak turun. Meski sedang demam, Raya nggak rewel. Hanya saja gerakan tubuhnya semakin melemah. Melihat keadaan si kecil, air mata saya tumpah. Sejak kemarin si kecil yang selalu riang dan ramai, tiba-tiba hanya bisa terbaring tak berdaya di tempat tidur. Sedih, panik, bingung, campur jadi satu. Menjelang sore, saya pun nekat membawanya ke laboratorium terdekat untuk periksa darah. Betapa tercengang saya membaca hasilnya, positif demam dangue!
Tanpa pikir panjang, Raya saya larikan ke RSU. Syukurlah, lima hari kemudian Raya dinyatakan sembuh. Rasanya bahagia melihatnya kembali ceria dan berceloteh riang. Dari peristiwa itu, saya belajar, bahwa sakit demam tidak bisa dianggap enteng. Kita harus cermat memperhatikan apa penyebab demam itu dan segera mengatasinya dengan penanganan yang tepat.


Sabtu, 30 Juni 2012

Beras Basah, Serasa di Pulau Pribadi







Aroma sedap ikan bakar menyambut kedatangan saya dan rombongan. Sekelompok anak muda tengah berpesta ikan segar yang dibeli dari nelayan yang kebetulan singgah. Perut saya yang diaduk-aduk selama perjalanan kontan minta segera diisi.

Ini pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Bontang, Kalimantan Timur. Bontang adalah kota kecil yang terkenal sebagai penghasil gas alam terbesar di dunia. Banyak yang tidak tahu, jika disana ada sebuah pulau yang terletak di tengah laut. Pulau ini dikenal dengan nama Beras Basah. Nama ini juga dipakai untuk menyebut pantai yang ada di pulau tersebut.

Jernihnya air dan lembutnya pasir putih Beras Basah menarik kaki saya menyisir tepiannya. Rasanya menyesal tidak membawa baju ganti. Saya pun harus puas dengan hanya mengelilingi pulau yang luasnya sekitar 1 hektare itu sambil mengabadikan tiap sudutnya.

Kamis, 08 Maret 2012

Resep Menulis Cerpen



Menulis adalah keterampilan menuangkan gagasan melalui lambang-lambang grafis yang melambangkan suatu bahasa. Keterampilan menulis melatih seseorang untuk berkreasi, berimajinasi, dan bernalar. Kaidah penulisan teks sastra seperti prosa fiksi, drama, atau puisi; tentu saja berbeda dengan kaidah penulisan teks non sastra. Jika penulisan teks sastra lebih menekankan kreativitas yang diolah dari pengalaman dan imajinasi, penulisan teks non sastra menekankan pada pengetahuan dan objektivitas dalam bernalar.
Ceita pendek (cerpen) merupakan bagian dari prosa fiksi. Penulisan cerpen berbeda dengan penulisan jenis prosa fiksi lainnya. Cerpen isinya lebih singkat dari novel, karena itu bentuk tulisannya juga lebih pendek.
Secara umum, cerpen disebut sebagai bacaan sekali duduk. Menulisnya juga tidak terlalu memakan waktu. Menulis cerpen diantaranya bermanfaat untuk mengasah daya cipta, mengembangkan imajinasi, dan mempertajam empati. Cerpen yang dikirim ke media dan dipublikasikan, biasanya akan mendapat honorarium dengan jumlah tertentu. Jika seseorang hobi menulis cerpen dan serius menekuninya, maka penulis cerpen bisa dijadikan profesi yang menghasilkan.

Jumat, 02 Desember 2011

Mengapa Memilihnya?

"Kamu nggak salah pilih kah?"

Pertanyaan itu sering terdengar menjelang hari pernikahan saya lima tahun lalu. Banyak yang meragukan pilihan saya: teman, saudara, bahkan orangtua.

Satu hari seorang bibi bahkan mencandai saya, “Milih calon suami kok yang kurus kering kerempeng gitu. Cari suami itu yang badannya sehat, kuat, biar bisa melindungi.”

Saya hanya tersenyum menanggapi komentar itu. Buat apa badan sehat kuat, tetapi hatinya sakit? Apa gunanya fisik kekar seperti pendekar, tetapi mentalnya kurang ajar?

Lain waktu, ada juga yang nyeletuk, “Calon suamimu tuh kayak gong ya. Kalau nggak dipukul nggak bunyi.”

Lagi-lagi saya tanggapi komentar itu dengan senyuman. Memang, lelaki pilihan saya bukan orang yang banyak omong dan kebetulan tidak bisa berbasa-basi. Dia baru bersuara kalau dirasa perlu dan bermanfaat.

* * *

Minggu, 27 November 2011

Menulis (Cerpen) Untuk Media Cetak

Saya mencoba menulis cerpen untuk dikirim ke media cetak sejak tahun 2000. Majalah Annida (majalah Islami untuk remaja yang sekarang berformat on-line) adalah satu dari sekian media yang memotivasi saya untuk menulis cerpen. Saya suka membaca rubrik galeri cerpen (lalu berganti nama menjadi BCN/Bengkel Cerpen Nida) yang saat itu diasuh bergantian oleh Helvy Tiana Rossa, Harris Effendi Thahar, Hamsad Rangkuti, Gola Gong, dan Joni Ariadinata. Rubrik itu mengulas satu dari beberapa cerpen yang dimuat dalam satu edisi, serta mengupas bagaimana trik-trik menulis cerpen yang oke.

Selasa, 01 November 2011

Proses Panjang Melatih Si Kecil Mandi Sendiri

Senangnya melihat Raya sekarang sudah bisa mandiri, mandi sendiri maksudnya, hehe. Mandi sendiri sudah saya belajarkan pada si kecil sejak usianya tiga tahun. Ketika itu dia menemukan gayung pink yang imut dan lucu di sebuah supermarket, ketika saya ajak belanja.
“Bun, adek mau mandi sendili…,” rengek si kecil keesokan harinya.
Bak mandi di rumah sangat tinggi untuk tubuh mungil Raya. Tangannya tidak bisa menjangkau air dari bak mandi itu. Di rumah tidak ada shower. Saya pun mencari cara, agar si kecil bisa belajar mandi sendiri.
Awalnya saya memanfaatkan bak berendam Raya waktu bayi. Saya isi sampai airnya penuh. Eh, jadinya nggak nyebokin air dari bak berendam, tapi malah langsung nyebur. Ini mah, belajar berendam namanya, hehehe.
Lain hari saya nemu ide pakai kursi kecil yang nganggur satu di dapur. Kursi itu kalau dalam bahasa Jawa disebut dingklik, bentuknya datar seperti meja kecil.
Saya taruh kursi itu di kamar mandi. Begitu mandi, Raya naik ke kursi itu. Waaah, dia tampak senang karena tubuhnya jadi tinggi, bisa ambil air dari bak mandi.
Selanjutnya, mengajari Raya memakai sabun, sampo, dan odol.
Saya menyediakan sabun cair untuk Raya. Sabun itu tersimpan dalam botol yang bagian atasnya harus ditekan untuk mengeluarkan isinya. Biar mudah dan praktis. Begitu juga untuk sampo.
Namanya anak kecil, pasti suka main air. Apalagi Raya. Dia bisa berjam-jam main air kalau sedang mandi. Semua mainan dibawa masuk ke kamar mandi.
Jam mandi Raya biasanya bersamaan dengan jam masak saya. Sementara saya riweh di dapur, saya biarkan saja si kecil berkreasi di kamar mandi.

Selasa, 16 Agustus 2011

Jangan Lukai Ibumu! (antologi)


buku ini merupakan antologi pertama saya yang berisi kumpulan kisah nyata pengorbanan para Ibu. selain cerita saya, dalam buku terbitan Qultum Media ini juga ada cerita Pipiet Senja, Dian Onasis, Fitha Cakra, dkk.segara dapatkan di toko buku terdekat! ^_^