Translate

Minggu, 01 Februari 2009

Penantian Raia

Cerpen: RF.Dhonna

“Tok… tok… tok… !” Raia terkesiap. Angin malam yang mendesau pelan tak mampu mengubah kecepatan detak jantungnya yang semakin tak beraturan. Raia merengkuh keempat buah hatinya,  bukan sekedar untuk menghalau dingin, tapi juga memberi rasa aman. Ia tak ingin kehilangan satu pun dari mereka, karena saat ini, merekalah satu-satunya harta yang dimilikinya. Raia segera teringat pesan terakhir suaminya. Perlahan diraihnya sebuah pistol yang selama ini disimpannya di bawah bantal. Tangannya gemetar. Akankah malam ini menjadi malam berdarah pertama yang ia alami setelah bertahun-tahun lamanya benda ini hanya disimpannya tanpa sekalipun ia fungsikan?
Dipeganginya dada kirinya yang mulai terasa nyeri. Tapi ia tak peduli. Sambil melangkah ke pintu, pandangan wanita itu tak lepas dari keempat buah hatinya yang meringkuk di atas tempat tidur. Keringat dingin mulai membasahi piyama merah hati pemberian suaminya di malam pengantin. Hampir tiap malam ia memakainya., karena ia yakin, meskipun tanpa kabar, suaminya yang merantau ke negeri orang itu sewaktu-waktu pasti pulang.  Memakai piyama ini, Raia merasa bercumbu dengan suaminya setiap malam. Tiba-tiba bayangan sang suami berkelebat di depan matanya.
“Aku akan pergi ke seberang dalam waktu yang lama. Apa yang kau inginkan sekembalinya aku dari sana?”
“Aku hanya ingin kebahagiaan. Tapi… benarkah kebahagiaan itu harus dicari di negeri seberang? Lalu, apakah kelak kau bisa membawakannya untukku?”
“Raia, aku akan mencarikannya untukmu, juga untuk anak-anak kita,” ucap laki-laki itu mesra sambil membelai lembut rambut istrinya yang tergerai panjang. “Meskipun aku harus terbang ke ujung dunia sekalipun, aku pasti membawanya ke hadapanmu.” janjinya manis. Raia melambung, tapi hanya sesaat.
“Kau akan meninggalkanku dan anak-anak kita?” tanya Raia sedih.
“Raia, aku pasti kembali padamu.”
Raia menggeleng, “Tidak, kau bohong! Kau meninggalkanku karena aku sudah tak mampu lagi memberimu kepuasan. Juga karena kanker yang kuderita. Kau memilih pergi jauh agar aku tak lagi menjadi beban pikiranmu? Ya, kan?!” Tiba-tiba Raia meradang. “Ternyata kau…”

“Raia, tidak! Apa yang kau katakan?” laki-laki itu mendekapnya. Raia berontak.
“Pergi, pergilah!” ucapnya sambil terisak.
“Raia, aku…”
“Pergi!” teriaknya tiba-tiba. Bayangan masa lalu telah membuatnya terhanyut, hingga tanpa sadar wanita itu telah mengejutkan keempat buah hatinya.
“Tok.. tok.. tok..!” Raia menoleh lagi ke pintu. Matanya mulai was-was. Pelan dilantunkannya bait-bait dzikir yang menghiasi kesunyian malamnya akhir-akhir ini. Pandangannya memutar ke seluruh dinding ruangan, lalu berhenti di sebuah sudut: foto suaminya.
“Aku tak bisa menjagamu setiap saat. Karena itu, simpan fotoku baik-baik. Dan ini, gunakan pistol ini untuk menjaga diri, untuk apa pun yang mengancam nyawamu dan nyawa anak-anak kita.”
Tiba-tiba Raia melempar pistol yang digenggamnya itu ke lantai. Jangan-jangan, yang mengetuk pintu itu….
Seketika tubuhnya terguncang hebat. Dadanya serasa teriris-iris. Matanya berkunang-kunang, sebentar gelap sebentar terang, benda-benda di sekelilingnya  berputar-putar.  Wanita itu tak kuasa lagi mengendalikan dirinya sendiri. Gelap-terang, gelap-terang, gelap….
                                                            * * *
“Ibu, benarkah Ibu akan meninggalkan kami selama-lamanya?” tanya si sulung suatu malam kepada Raia. Wanita itu terhenyak. Kenapa anak perempuannya itu bisa berkata seperti itu? Raia segera bercermin, memandangi wajahnya yang tirus dan semakin memucat. “Ibu sakit apa? Apa benar yang kudengar dari percakapan Ibu dan dokter kemarin, bahwa Ibu sakit kanker?” desak si kecil.
“Ibu…,” Raia tak mampu menutupi kegugupannya. Tetapi pantaskah gadis kecil yang berusaha memenuhi rasa keingintahuannya itu menerima sebuah kebohongan? Direngkuhnya gadis kecil itu ke pelukannya.
“Jika ibu menjawab ya, apa yang kau lakukan?”
“Aku akan berusaha membuat Ibu sembuh,” ungkapnya polos.
Raia mengusap kepala putrinya perlahan. Nafasnya terdengar sangat berat. Dikuatkannya hatinya. Ia tak ingin melihat putrinya menitikkan air mata.
“Ya, ibu terkena kanker.” Akhirnya kata-kata itu meluncur dengan mulus dari bibirnya. “Kau tahu kanker?” lanjutnya.
“Ya, penyakit itu yang membuat Bibi meninggal sebulan yang lalu. Berarti, Ibu juga akan meninggal seperti Bibi?”
Raia menatap gadis kecil itu lekat-lekat. “Sayang, ibu akan berusaha sembuh untukmu,” ucapnya, mencoba meyakinkan putrinya.
“Tapi, Ibu tetap akan meninggalkan kami, kan?”
“Tidak,” sangkalnya. Raia berpikir keras, kira-kira kata apa yang bisa menyampaikan maksudnya dengan tepat. “Kau pernah melihat ulat bulu yang berubah bentuk menjadi kupu-kupu yang cantik dan indah? Nah, suatu saat kita semua juga akan seperti mereka, berubah wujud.* Mungkin, kelak kau tak akan pernah lagi melihat ibu dengan wujud seperti ini, tapi dalam wujud lain. Jadi meskipun suatu hari kau tak melihat ibu, sebenarnya ibu selalu ada di sampingmu,” jelas Raia.
“Lalu, apakah aku masih bisa berkomunikasi dengan Ibu, apakah aku masih bisa meminta nasihat ibu ketika aku menginginkan hal yang terbaik?”
“Tentu saja, kapan pun kau mau.”
“Bagaimana caranya?” kejar gadis kecil itu.
Raia terdiam sesaat. Bagaimana ia harus menjelaskan lagi agar putrinya itu mengerti?
“Sayang,” akhirnya Raia berkata lagi, “kau tidak harus mendengar  suara ibu. Dengarkan suara hatimu, karena sebenarnya itulah yang ibu katakan padamu.”* Mudah-mudahan ia bisa mengerti, harap Raia.
“Lalu, Ibu ada dimana?”
“Di sini, di hatimu,” ujar Raia sambil menunjuk dada putrinya. Gadis kecil itu tersenyum. Raia lega melihatnya.
“Tapi…., apakah kita bisa bertemu jika aku merindukan ibu?” Ternyata gadis kecil itu masih belum puas mencecarnya dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuat kepalanya berdenyut.
“Kita akan bertemu lewat mimpi.” sahutnya cepat. Semoga itu pertanyaan terakhir, harap Raia lagi. “Kita bisa bermain bersama, bercerita tentang banyak hal, terbang bersama….,” Raia tak mampu lagi melanjutkan kata-katanya, seolah-olah perpisahan itu semakin dekat. Diam-diam ia memohon tambahan usia.
“Tok.. tok.. tok… !” Wajah Raia memucat, ia tak mampu menyembunyikan ketakutannya. Akankah waktu itu tiba ketika dirinya sudah tak berdaya lagi seperti  saat ini? Raia berusaha bangkit. Akhir-akhir ini ia merasa diawasi, seolah ada mata-mata sakti yang selalu mengikutinya kemanapun ia melangkahkan kaki. Ia harus melindungi keempat buah hatinya, malaikat-malaikat kecil yang selama ini mampu menghadirkan ketenangan dan kebahagiaan untuknya.
Nyeri di dadanya mulai terasa lagi, menjalar hingga ke bawah perutnya yang semakin membuncit. Raia mengerang menahan perih.
“Suamiku, kaukah itu?” tanyanya meyelidik. Tak ada sahutan. “Sst…, anak-anakku, ayah kalian datang. Ia datang menjemput kita,” katanya setelah membuka pintu.
“Ibu…!”
“Kalian lihat itu. meskipun masih jauh, ibu bisa melihat ayah kalian, bahkan ketukan pintu oleh tangannya bisa ibu dengar.”
“Ibu..!”
“Ayah pulang dengan seseorang,”  ceracaunya tak jelas. Kini langkah Raia telah melampaui batas pintu.
“Ibu…!” sekali lagi keempat anaknya berteriak, tapi seolah-olah pendengaran Raia sudah tak berfungsi. “Ibu…!” Raia terus melangkahkan kakinya. “Ibu…!” Tak didengarnya lagi teriakan keempat buah hatinya Raia tampak tak peduli lagi pada mereka, melupakan kenangan bersama piyama merah hati, suami, anak-anak, melupakan semuanya. Raia benar-benar pergi bersama sang suami dan malaikat dari surga.

                                                            Terinspirasi dari film Step Mom
*cerpen ini dimuat di Majalah Komunikasi tahun 28/no.238/Mei—Juni 2005



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah meninggalkan komentar 😊