Seorang teman pernah bertanya padaku, "seandainya ada orang yang pengen nukar hape nokia 3310 kamu dengan hape keluaran baru yang lebih canggih, kamu mau nggak?" Tanpa pikir panjang, kujawab, "nggak mau!"
Ada banyak alasan, kenapa hape yang sekarang dianggap kuno itu kupertahankan. Hape itu punya nilai historis tinggi. Aku harus bersusah payah mendapatkannya.
Nokia 3310 yang sampai detik ini masih 'sehat' itu kubeli dari hasil keringatku sendiri pada 22 Oktober 2004 silam seharga 400 ribu. Hape itu--meski seken-- kubeli dalam kondisi cukup baik, lengkap dengan ces asli dan box-nya. Jauh sebelum itu, aku sangat menginginkan sebuah hape. Meski jelek nggak pa-pa, yang penting bisa dipakai telpon dan sms. Makanya, ketika akhirnya aku bisa beli hape, aku seneeeng banget.
Sebagai mahasiswa yang punya mobilitas tinggi (cie..), aku merasa sangat terbantu dengan adanya hape. Prinsip kerjanya yang memudahkan komunikasi benar-benar aku rasakan.
September 2004, redakturku di Majalah Komunikasi menawariku sebuah side job. "Mau nggak jadi panitia pameran buku internasional? honornya lumayan lo." Mendengar kata honor, tanpa pikir panjang lagi, aku langsung mengiyakannya (maklum, lagi maruk-maruknya, he-he..). Ini kesempatan emas untuk menambah isi dompet yang hampir tiap bulan selalu minus.
Translate
Minggu, 08 Juni 2008
full smile
Assalamualaikum adek, selamat pagi…
Hmm.. senyum yang indah
Anak sehat, bangun tidur nggak nangis….
Senyuman sepanjang hari buat Ayah dan Bunda
Dari adek yang selalu kuat dan bersemangat
Dari adek yang cerdas dan solihat
Dari adek yang ceria dan bahagia
Sambut cinta dan kasihNya
Lalu tebar di semesta dengan tulus ikhlas
Selamat malam adek, selamat tidur
Lelaplah dengan senyum paling indah
Peluk cium kami untukmu
Ceritakan mimpi semalammu esok hari
Senandung cinta buat Raya
sisi lain Iqbal
Pagi itu, datang sebuah kabar yang mengejutkan dari adik laki-lakiku, Iqbal, "mbak, aku kesuk ate budhal mondok (aku besok mau berangkat mondok--nyantri di pondok pesantren)," katanya. aku tercenung lama. dalam waktu dua bulan, satu lagi penghuni rumah yang akan pergi. setelah aku ke ende, adikku ke curah kates-jember. Rupanya tahun 2007 ayah-ibuku harus ikhlas "kehilangan" dua anak sekaligus.
sebenarnya sudah lama aku mendengar rencana iqbal untuk mondok. tapi waktu itu, kupikir dia hanya ingin saja, nggak serius. ternyata keinginannya yang satu ini begitu kuat. Aku ingat, dia mengungkapkan keinginan ini pertama kali sekitar 3 tahun yang lalu. Tapi kedua orantuaku keberatan, karena tidak ingin 2 anaknya meninggalkan rumah dalam waktu bersamaan. Waktu itu aku baru setahun kuliah di Malang. Akhirnya orangtuaku berjanji, begitu aku lulus, mereka akan mengabulkan keinginan iqbal. Ya, sementara waktu, iqbal terpaksa harus mengalah untukku.
sebenarnya sudah lama aku mendengar rencana iqbal untuk mondok. tapi waktu itu, kupikir dia hanya ingin saja, nggak serius. ternyata keinginannya yang satu ini begitu kuat. Aku ingat, dia mengungkapkan keinginan ini pertama kali sekitar 3 tahun yang lalu. Tapi kedua orantuaku keberatan, karena tidak ingin 2 anaknya meninggalkan rumah dalam waktu bersamaan. Waktu itu aku baru setahun kuliah di Malang. Akhirnya orangtuaku berjanji, begitu aku lulus, mereka akan mengabulkan keinginan iqbal. Ya, sementara waktu, iqbal terpaksa harus mengalah untukku.
tentang seorang kawan
Siang itu panas banget. Setumpuk naskah cerpen di depan mata saya—yang menunggu giliran untuk diseleksi—membuat suasana tambah gerah. Waktu itu saya masih mahasiswa semester tiga, ditugaskan menjadi sekretaris pelaksana sebuah lomba menulis oleh organisasi mahasiswa intra kampus yang saya masuki sejak semester satu, UKMP.
14-17 juli 2007
Sabtu 14 juli 2007 pukul 21-an. Mendadak perutku sakit. Rasanya seperti ingin buang air besar. Setiap 5-10 menit sekali, sakit itu menderaku selama 1 menit. Malam itu aku tak bisa memejamkan mata. Perlahan ketegangan merayap—inikah saatnya? Inikah pertanda bahwa bayi yang bersemayam di rahimku sembilan bulan lamanya akan segera lahir? Inikah yang namanya kontraksi? Keesokan harinya, kukonsultasikan hal ini pada Mbak Tri, bidan depan rumah.
Selasa, 03 Juni 2008
prihatin insiden monas
Saya malu, sedih sekali menyaksikan peristiwa penyerangan yang dilakukan oleh sebuah ormas berembel-embel Islam kepada sekelompok massa yang bernaung di bawah ormas ‘beraliran’ kebangsaan, pada Minggu 1 Juni kemarin di Monas. Bagi saya, peristiwa itu tidak hanya mencoreng Islam sebagai agama penuh cinta dan kasih sayang, tetapi juga mempertanyakan moral bangsa ini. Rekaman tragedi penyerangan itu yang ditayangkan di semua stasiun televisi, menggambarkan dengan jelas betapa brutalnya ormas Islam itu. Mereka memukuli semua yang ada di Monas—tak peduli apakah mereka wanita, anak-anak, atau manula—merusak semua properti yang ada, begitu membabi buta, persis seperti binatang, anarkis, tidak berperikemanusiaan sama sekali.
Langganan:
Postingan (Atom)



