Translate

Senin, 19 Januari 2009

Ende dalam kenanganku (part.2)

Bibir orange karena buah pinang
Ada satu kebiasaan unik penduduk asli Ende yang mirip dengan kebiasaan orang Jawa jadul, jaman nenek-nenek kita dulu (sekarang mungkin masih ada, tapi kayaknya sudah mulai punah), yaitu mengunyah pinang. Kalau di Jawa setahuku mengunyah daun sirih yang dicampur buah pinang dan bahan lain. Tujuannya untuk merawat gigi, gusi, dan mulut. Seperti almarhumah nenek dulu.

Ketika ke pasar, di jalan-jalan, dimanapun, sering kujumpai laki-laki dan perempuan Ende yang sudah agak berumur bibirnya merah kekuningan kayak pakai lipstick setelah mengunyah pinang. Mungkin tujuannya sama seperti orang Jawa jadul ya, untuk kesehatan mulut dan kawan-kawannya itu.

Ikan-ikan…
Ketika di Ende, sebagai ibu rumah tangga biasa, sehari-hari kuhabiskan sebagian besar waktuku di rumah. Memasak, mencoba resep masakan baru, bersih-bersih, main ke tetangga, main ke teman, berputar seperti itu. Suamiku kerja lima hari, dari pukul delapan pagi sampai lima sore, praktis, kalau weekend atau hari libur lainnya betul-betul kami manfaatkan untuk refreshing buat menghilangkan stress akibat aktivitas yang monoton. Di Ende, jalan-jalan ke pasar ikan sudah bisa menghilangkan stres. Sembari memilih ikan, kita bisa melihat pantai dekat pasar ikan dengan segala kesibukannya. Kepuasan karena mendapat ikan segar yang murah, juga bisa menjadi obat stres yang manjur, hehe…

Selasa, 13 Januari 2009

Ende Dalam Kenanganku (part.1)

Ende, aku datang…
8 Februari 2007.
Pesawat Cassa 212 yang kutumpangi hendak mendarat. Aku melongok ke bawah. Wow, pemandangannya indah…, hijau dimana-mana. Kota Ende yang menjadi tujuanku tampak diapit oleh beberapa gunung, perbukitan kecil dan dikelilingi pantai berair biru jernih. Perasaan haru menghampiriku ketika baru saja mendarat di bandara H. Aroeboesman. Inilah Ende, kota kecil di timur Indonesia. Kulihat sekeliling, bandara ini sepi sekali. Luasnya pun tak ada setengah dari bandara Juanda atau bandara internasional lainnya. Tak ada pesawat-pesawat besar yang singgah. Setelah menurunkan penumpang, pesawat kecil jenis Cassa 212 (yang cuma muat sekitar 25-an orang), jenis fokker, atau jenis ATR 42, biasanya langsung terbang lagi dengan penumpang baru. Nggak pakai parkir dulu.

Di pintu keluar bandara, segerombolan tukang ojek menghadangku dan suami. Ya, tukang ojek, tidak ada taksi seperti di bandara lain. Kami menggeleng menolak tawaran mereka, karena sudah ada dua orang penjemput kami, teman sekantor suamiku. Masing-masing membawa motor sendiri-sendiri. Kata suamiku, jarak antara bandara dengan calon rumah kontrakanku nanti tidak terlalu jauh, bisa ditempuh selama tiga menit saja. Hmm.. seperti apa ya, rumah yang akan aku tempati itu?

Selasa, 06 Januari 2009

Tetap Heboh Meski Tanpa Ayah

 
Tahun lalu Raya melewati tahun baru pertamanya tanpa kehadiran Ayah. Kesibukan akhir tahun di kantor membuat Ayah tidak bisa pulang kampung dan berkumpul bersama keluarga. Kebetulan rumah mertua di tengah kota, dekat alun-alun yang setiap ada perayaan hari besar selalu ramai. Malam menjelang pergantian tahun, bersama Ibu mertua, kakak ipar dan anak-anaknya, serta tante, Raya kami ajak keliling alun-alun dengan berjalan kaki. Kami melihat orang-orang yang berjualan. Segala macam barang dijajakan, mulai dari terompet, mainan, baju-baju, sampai makanan. Kulihat Raya seperti terheran-heran menyaksikan pemandangan itu. Kami semua bergantian menggendong Raya. Semakin malam, jalan semakin penuh disesaki manusia dan beragam kendaraan, membuat kami terjebak di tengah alun-alun. Kami tidak menemukan jalan untuk pulang. Terpaksa kami berhenti sejenak di tukang gorengan, duduk lesehan sambil memesan sepiring makanan untuk dinikmati bersama. Tidak lama kemudian, kami berhasil pulang dalam keadaan capek berat.

* tulisan ini dimuat di tabloid Nakita no. 510/th.X/5-11 januari 2008, dengan beberapa perbaikan

Kamis, 25 Desember 2008

Adik kecil

Saat kutatap indah matamu

Berbinar ceria, dan ada damai disana

Saat kau lakukan hal yang kau suka

Kusadar kau punya dunia sendiri

 

Kan kubaca untukmu

Cerita pengantar mimpimu

Lelapkanlah tidurmu

Hingga mentari bangunkan dirimu

 

Tidurlah adik, buanglah semua lelahmu

Tidurlah adik tersayang

Jangan pernah kau takut

Karena ku kan ada di sampingmu

Selalu menjagamu

 

** saat kulihat kau bermain

Begitu riang dan senangnya hatimu

Terlihat di raut wajahmu

Betapa lucu dan lugunya dirimu

 

Kan kubaca untukmu

Cerita pengantar mimpimu

Lelapkanlah tidurmu

Esok hari baru telah menantimu

 

Lagu grup musik ‘base jam’ ini pernah menjadi lagu favoritku jaman SMP dulu. Setiap kali menyenandungkan lagu bersyair puitis dan menyentuh ini, tanpa sadar aku menitikkan air mata. Aku teringat adik-adikku. Bagaimana ya, nasib mereka kelak? Apakah mereka akan menjadi orang yang bahagia, ‘gagal’, atau.. seperti apa? apakah kelak mereka bisa mendapatkan pasangan hidup yang tepat, yang menyayangi dan menghargai mereka seperti orangtua kami selama ini menyayangi dan menghargai kami anak-anaknya? Entahlah, aku begitu mengkhawatirkan mereka. Dari jauh, aku hanya bisa berdoa, semoga Allah selalu memberi yang terbaik untuk mereka, sepanjang usia mereka… amin.

 

Dari kiri ke kanan: aku, Iqbal, Nanda, Rojil.

duduk: Ibu, Raya dan Ayah

luv u all...

* waktu mudik lebaran tahun lalu

Senin, 15 Desember 2008

tempat-tempat berkesan (eps.ende-flores, NTT)




sembilan bulan bermukim di Ende. inilah Ende dalam bidikan kamera. kota yang tenang dan damai. kota kecil dengan seribu kenangan...

Minggu, 14 Desember 2008

Bude Pasti Sembuh...


“Apa kabar Bude? Bagaimana perkembangannya?” tanyaku hati-hati.
“Ya, seperti ini, kadang cenut-cenutnya hilang, kadang kambuh lagi..,” jawabnya parau. Di seberang sana, aku membayangkan perempuan itu tengah menahan sakit yang luar biasa. Bude termasuk kuat. Beliau masih rajin melakukan terapi di desa sebelah tiap sore, lalu seminggu sekali beliau juga terapi ke Sidoarjo, ke seorang tabib yang kabarnya bisa menyembuhkan sakit semacam penyakit yang dideritanya melalui ramuan tradisional. Bukan main usaha bude. Meski beberapa minggu terakhir keadaannya tambah drop, sampai tak bisa duduk (hanya bisa berbaring di kasur), bude tetap berusaha agar bisa sembuh. Ya, bude pasti bisa sembuh.

Sabtu, 13 Desember 2008

tetap rileks saat ujian

            Begitu mendengar kata Ujian, hal-hal “serem”seputar itu akan segera muncul di otak kita. Mulai dari pengawas ujian yang katanya ‘kejam’, lembar jawaban yang nggak boleh kotor dikit, takut salah jawab, takut ini takut itu, pokoknya macem-macem deh, takutnya. Nah, biar nggak keder pas ujian berlangsung, ikuti tips berikut ini.