Translate

Senin, 11 Februari 2013

Balada Sukarti




Oleh: RF.Dhonna

Sukarti membolak-balik modul di tangannya. Mata tuanya menyipit. Buat Sukarti yang sudah nenek-nenek, tulisan di modul setebal bantal itu tampak tak jelas. Meski kacamata bacanya telah dipasangnya dengan benar. Sebentar-sebentar disorongkannya modul matakuliah Menulis Fiksi itu ke depan, lalu ke belakang. Maju mundur. Tetap susah dibaca.
Perempuan setengah abad lebih itu mulai frustasi. Andai ada Woro, anak perempuannya yang saat ini tengah menempuh pendidikan magister di pulau seberang, ia takkan kesulitan seperti ini.
“Rani, sini!” Sukarti berteriak memanggil cucu kemenakannya yang menumpang tinggal di rumahnya sejak kecil.
“Iya, Nek?” sahut Rani. Perasaan gadis remaja yang kemarin baru masuk SMU itu tak enak.
“Nenek minta tolong lagi ya, Cu. Kemarin dosen menugaskan nenek merangkum isi buku modul ini. Tulisannya terlalu kecil. Rani tolong nenek membuat rangkuman ya,” Sukarti memohon dengan muka memelas.

Tuh, kan, merangkum lagi. Rani sudah mulai banyak tugas, Nek. Rani sibuk. Bayar orang kek, buat ngerjakan. Kenapa Rani terus? Kan yang kuliah nenek…,” sungut Rani kesal.
Dalam hati Sukarti membenarkan perkataan cucunya. Dia yang kuliah, kenapa Rani yang ribet? Semangat Karti, lima juta di depan mata! Batin Sukarti menyemangati diri sendiri.
Enam bulan lalu Sukarti resmi jadi mahasiswa program kualifikasi. Kuliah ini diperuntukkan bagi guru-guru yang belum S1. Istilah lainnya, penyetaraan. Sukarti sendiri, tiga puluh tahun lalu selepas sekolah di Jawa merantau ke Kalimantan dan diterima jadi guru SD di Samarinda. Sukarti bersyukur, kuliahnya kali ini tidak pakai bayar. Pemerintah memberi beasiswa kepada semua guru yang menempuh program ini sejuta per semester: untuk uang modul, transport, dan uang makan.
Nanti begitu lulus, gajinya akan naik jadi lima juta. Kata pepatah, berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Sekarang harus berjuang dulu, senang kemudian. Membayangkan itu, Sukarti jadi semangat lagi.
Meski maju mundur, depan belakang, Sukarti bertahan mengeja satu persatu huruf di modul itu. Hingga tanpa terasa jarum jam sudah menunjuk angka satu.
* * *
Sabtu pagi. Sukarti terbangun memeluk modul yang semalam dirangkumnya. Hari ini ada jadwal kuliah. Disaat banyak orang sedang menikmati akhir pekan, Sukarti dan kawan-kawan harus duduk manis di kelas mendengarkan ceramah dosen selama berjam-jam. Dari tengah hari sampai sore. Lalu dilanjutkan besoknya, dari pagi hingga siang. Sepekan dua kali untuk satu matakuliah, karena jadwalnya dipadatkan. Bagi yang sehat wal afiat seperti dirinya, mungkin tak masalah. Tetapi bagi yang encoknya sering kumat atau wasirnya sudah parah, tentu ini akan jadi siksaan hebat.
Apalagi tak jarang guru dari kecamatan  tertentu, ternyata dapat kelas di kecamatan lain. Seperti dirinya, malah dapat kelas di Sanga Sanga, sekitar satu jam dari Samarinda. Untung dapat menantu baik hati. Tiap Sabtu dan Minggu mau disuruh ngantar mertua kuliah.
Sukarti bersiap berangkat ke sekolah. Aktivitasnya padat hari ini. Setelah mengajar nanti, dia langsung menuju ke Sanga Sanga untuk kuliah. Ada kabar, beasiswa tiga semester akan cair hari ini. Ah, hatinya tambah bersuka cita.
* * *
Matahari tepat di atas kepala. Manto, suami anak pertama Sukarti, mengemudikan motornya pelan. Membonceng Sukarti yang tengah duduk tenang di belakangnya. Perempuan itu baru saja menerima amplop berisi uang beasiswa dari kantor dinas.
Manto harus hati-hati dan konsentrasi penuh, sebab yang sedang dilewatinya adalah jalanan berlubang disana sini, disertai tanjakan dan turunan curam. Ada juga bekas tanah longsor yang masih ditandai police line.
Mobil-mobil tambang yang tiap hari melintas dengan muatan berton-ton menggilas aspal tipis di sepanjang jalan. Genangan banjir setelah hujan lebat semakin mempercepat rusaknya jalanan itu.
Masya Allah! Lebar betul lubang ini. Kalau ditanami pohon pisang atau singkong, sebentar saja bisa panen tuh,” ujar Manto setengah berteriak.
“Iya, heran mamak 1. Mana tanggung jawab perusahaan batubara yang kaya-kaya itu. Maunya pakai saja. Giliran jalanan rusak seperti ini, mereka pura-pura tidak tahu.”
Mereka berdua terus menggerutu sepanjang jalan. Siapa pun yang melintas, akan merasa miris melihat pemandangan kanan kiri yang gersang akibat galian batubara yang tidak ramah lingkungan, atau bukit-bukit hijau yang mulai digunduli untuk dikeruk emas hitamnya. Yang bikin tambah kesal, sejak jalur Samarinda—Sanga Sanga rusak parah, perjalanan yang bisa ditempuh satu jam saja bisa molor sampai satu setengah jam. Pinggang akan terasa remuk redam sehabis diajak ajrut-ajrutan.
Sesampai di lokasi perkuliahan, kelas masih sepi. Hanya dua orang yang tampak. Sukarti segera membuka amplop putih panjang yang diterimanya tadi. Dihitungnya lembaran uang seratus ribuan itu satu persatu. Alangkah kagetnya Sukarti.
“Lho, kok cuma segini?” Sukarti kebingungan.
“Kenapa, Mak?” Manto menghampiri.
“Cuma dua juta. Mana sejutanya? Nggak salah hitung kah, mbak-mbak tadi?”
“Masak sih, Mak?”
“Eh, Madang, kau sudah ambil uang kah?” Sukarti menghampiri teman kuliahnya yang sedang sibuk sms.
“Iya, kenapa, Cil? Kurang kah? Sama kalau begitu! Ini ku sms teman-teman, apa sama nasibnya kayak kita.”
Wajah Sukarti mulai bingung dan cemas. Satu persatu teman kuliahnya datang dengan wajah yang sama. Sedetik kemudian, kasak kusuk pun ramai terdengar. Lalu dosen datang. Mereka kuliah dengan pikiran yang sama: kemana uang sejuta itu?
* * *
Semalam Sukarti tak nyenyak tidur. Pagi ini ia bertekad mendatangi kantor dinas. Ia akan menanyakan, kemana larinya uang sejuta itu.
Kada ada gunanya, Cil, tanya-tanya. Percuma. Nanti malah nama Acil 2 ditandainya. Bisa-bisa beasiswa Acil ditahan,” nasihat Awang, teman sekelas Sukarti, ketika Sukarti menggagas demo kecil-kecilan ke kantor dinas di hadapan teman-temannya.
“Iya, Cil, kada 3 usah cari masalah,” timpal Madang.
Ikam 4 ini ya, itu hak kita. Harus kita tanyakan! Kalau kita diam saja, keenakan mereka. Sampai anak cucu kita nanti pasti akan didzoliminya. Ikam nyaman 5, penghasilan dari mana-mana. Ulun6 sudah  kada bersuami, anak bungsu kuliah. Sejuta itu bisa buat ngganjal perut!” terang Sukarti. “Pokoknya, biar ikam kada ada yang mahu 7, ulun tetap datangi kantor dinas!” tambahnya berapi-api.
Tidak ada yang berhasil membendung keinginan Sukarti.
* * *
“Ibu kalau mau protes, tempatnya bukan disini, Bu. Harusnya Ibu bersyukur, kuliah dapat keringanan. Ibaratnya, Ibu ini ditolong sama pemerintah. Nah, karena sudah ditolong, nggak usah macam-macam,” urai petugas yang berhasil ditemui Sukarti siang itu.
“Tapi, Pak, janjinya kan sejuta satu semester. Kalau tiga semester berarti tiga juta. Potongannya sejuta per orang. Banyak betul,” sanggah Sukarti.
“Potongannya memang sejuta, Bu. Untuk pajak dan biaya administrasi.”
“Kenapa tidak dibicarakan di awal, Pak, waktu kami belum kuliah dulu? Kalau begini kan, berarti sepihak. Kami tidak tahu apa-apa. Begitu dana cair tiba-tiba ada pemotongan!” suara Sukarti mulai meninggi.
“Sekarang begini, Ibu mau lanjut kuliah apa berhenti? Itu saja sebenarnya.”
“Seandainya kalau berhenti tidak ada keharusan mengembalikan biaya kuliah dua kali lipat, saya pasti mundur dari kemarin, Pak,” dada Sukarti mulai sesak. Ada yang tertahan di dalamnya.
“Ya sudah, kalau mau mundur, mundur saja. Gitu aja kok repot.”
Mendengar itu, dada Sukarti serasa mau meledak. Ia sudah tidak tahan.
Sukarti cepat-cepat angkat kaki sebelum meledak betulan.
Benar-benar tidak tahu adat! Tidak punya sopan santun sama orangtua! umpat Sukarti dalam hati. Perempuan paruh baya itu pulang menelan kekecewaan yang amat sangat.
Sesampai rumah, Woro menelponnya, menyampaikan kabar yang tak kalah buruknya dari yang dialaminya tadi. Membuat kepalanya makin pening.
“Beasiswaku terpotong dua semester, Mak. Katanya buat pajak dan biaya administrasi,” lapor Woro.
Astaghfirullah, negara macam apa ini? Sukarti mengelus dada.
Woro mendapat beasiswa 24 juta untuk pendidikan magisternya selama empat semester. Dua semester berarti dua belas juta!
Sukarti serasa tertimpa tangga berkali-kali. Bertubi kemalangan datang dalam sehari. Sukarti tak tahu harus berbuat apalagi. Pikirannya buntu.
* * *
Butuh dua minggu bagi Sukarti untuk memulihkan mentalnya yang sempat down.  Perempuan itu teringat, ia harus segera melunasi uang kuliah anaknya.
Tahun ajaran baru, Sukarti jadi ketua penerimaan siswa baru di sekolah tempatnya mengajar. Semalam, sepucuk surat edaran untuk orangtua siswa baru, selesai dikonsepnya. Surat itu dibuat tanpa persetujuan guru-guru lain.
Sukarti mengajar di SD favorit. Dia senior di sekolah itu. Tak heran jika setiap mengambil kebijakan, suara Sukarti selalu dipertimbangkan oleh kepala sekolah.
Kemarin Sukarti menyuarakan keinginannya menarik uang sumbangan perawatan gedung dan pembangunan musola sekolah. Dia minta ditunjuk sebagai pengelolanya. Kepala sekolah menyetujui.
Dua juta. Nominal yang cukup fantastis bagi orangtua murid sekolah dasar. Tapi Sukarti tak peduli. Yang dipikirkannya saat ini hanya satu, bagaimana mendapat banyak uang dalam waktu singkat. Untuk melunasi pembayaran, Sukarti atas nama sekolah memberi toleransi satu bulan saja.
Kalau ada orangtua murid keberatan, cari saja sekolah lain. Sekolah favorit tidak akan kekurangan murid, pikir Sukarti.
* * *
Sukarti tengah asyik menghitung uang ketika dua lelaki berseragam rapi tiba-tiba muncul di hadapannya.
“Ibu, mohon ikut kami ke kantor polisi sekarang,” kata seorang diantaranya.
“Ada apa? Saya sedang banyak kerjaan, Pak,” ujar Sukarti tanpa curiga.
“Maaf, Bu, harus sekarang. Ini surat perintah dari kepolisian. Kemarin ada yang melapor ke kami, ada pungutan liar di sekolah ini. Ibu akan kami periksa.”
Seketika gemetarlah lutut Sukarti. Tak kuat menopang tubuhnya yang berat, sedetik kemudian Sukarti pun ambruk tak sadarkan diri.
Tiga bulan kemudian, Sukarti resmi jadi tersangka.
* * *
Keterangan:
1 Ibu
2 Bibi
3 Tidak
4 Kamu, kalian
5 Kamu enak
6 Saya, aku
7 Mau

Muara Jawa, Juli 2011

*Cerpen ini ada di buku Kalimantan Timur Dalam Cerpen Indonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah meninggalkan komentar 😊