Translate

Selasa, 08 Juli 2008

Tiga Bulan Pertama

Tiga bulan pertama menikah

Sehari setelah menikah, lelaki itu memboyong istrinya ke Jakarta. Pegawai negeri sipil seperti dia tidak bisa berlama-lama mengambil cuti. Di Jakarta, mereka tinggal di sepetak kamar berukuran tak lebih dari 3x4 meter, sebuah kamar kos-kosan di daerah stasiun Juanda-Gambir yang memang disewakan untuk para pekerja yang berkantor di sekitar kawasan itu.

Kamis, 26 Juni 2008

koko

Entah sejak kapan, kadang-kadang tanpa sadar saya dan suami saya memanggil anak kami dengan panggilan sayang “koko”. Panggilan ini berasal dari kebiasaan kedua adik saya—om dan tantenya Raya—yang memanggil si kecil dengan sebutan atekko (berasal dari kata adikku yang dimodifikasi,hehe..). Lama-lama, mungkin karena kepanjangan, mereka manggil Raya dengan Koko saja (diambil akhirnya). Sekarang kami berdua jadi ikut-ikutan memanggil begitu

Selasa, 24 Juni 2008

juni tahun ini (2)

 
Masih di bulan Juni, kado luar biasa kembali kuterima dariNya. Kali ini berhubungan dengan si kecil Raya. Minggu 15 Juni lalu, Raya demam. Kukira cuma panas demam biasa, efek samping tumbuh gigi—di gusi bawah ada tanda-tanda akan tumbuh dua gigi—ternyata bukan.
Hari Senin, Raya masih ceria seperti biasa, tetap makan sesuai porsi sehari-hari. Selasa, Raya tampak lesu dan lemas, gak nafsu makan, gak banyak tingkah atau ngoceh seperti biasanya. Aku belum curiga kalau sakit si kecil serius.

Senin, 09 Juni 2008

Juni Tahun Ini

Tak pernah saya bayangkan sebelumnya, juni tahun ini saya akan mendapat kado luar biasa. Siang itu, Kamis 5 Juni lalu, Samarinda diguyur hujan lebat. Suami saya sudah di kantor lagi setelah pulang ke rumah pada jam istirahat. Setelah beberapa menit, kok hujan tambah lebat, batin saya. rumah kontrakan saya bocor di sana-sini. Anak saya mulai rewel. Dengan menggendong si kecil, saya periksa seluruh ruangan. Begitu melongok kamar mandi, astaghfirullah, air selokan masuk. Posisi lantai rumah kontrakan saya memang lebih rendah dari jalan. Di pintu kamar mandi terdapat tembok pembatas setinggi lutut untuk mencegah air masuk ke dapur.

Kiat Harry Roesli Mengasuh Anjal

 
Beberapa waktu  lalu, kampus kita tercinta kedatangan tamu istimewa, yaitu Harry Roesli. Beliau diundang untuk menjadi pembicara dalam seminar dan talk show yang termasuk rangkaian LUSTRUM X UM. Dalam kesempatan tersebut, beliau membeberkan rahasia suksesnya bergaul dengan anak jalanan (anjal). Berikut petikan kisah yang berhasil direkam oleh wartawan Komunikasi, RF. Dhonna.

Siapa yang tak kenal Harry Roesli. Sosok dan kiprahnya sebagai seniman sekaligus budayawan sudah tidak diragukan lagi. Selain itu, pria gaek yang kerap tampil nyentrik dengan busana serba hitam ini juga dikenal sebagai kolumnis senior di sebuah surat kabar terkemuka di Indonesia. Kini sejak muncul sebagai komentator tetap di acara Akademi Fantasi Indosiar (AFI) dengan ciri khasnya yang suka melontarkan akronim-akronim ‘jahil’, wajah pria kelahiran 10 September 1951 ini semakin familiar di mata masyarakat.  Tapi tak banyak yang tahu jika sosok sederhana ini ternyata juga seorang pengayom anjal. Tak tanggung-tanggung, jumlahnya mencapai 3624 anak! Hebatnya, sampai saat ini ia mengaku tak pernah mengalami kesulitan berarti dalam mencari dana untuk kelangsungan hidup para anjal itu. “Alhamdulillah, meskipun tidak terorganisir dengan baik, dana untuk mereka selalu ada,” ucapnya penuh syukur.

Makam Bung Karno, Daya Tarik Terbesar Kota Blitar

Bulan Agustus identik dengan Bung Karno, karena tepat pada 17 Agustus enam puluh tahun yang lalu, beliau memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia bersama Bung Hatta. Beberapa waktu lalu, Komunikasi berkesempatan mengunjungi komplek makam Putra Sang Fajar ini di kota Blitar. Komplek makam yang kini dilengkapi perpustakaan itu belum sepenuhnya selesai. Meski bangunan baru itu sudah dioperasionalkan sejak 3 Juli 2004 lalu, proses penyempurnaan bagian-bagian gedung tiga lantai itu masih tetap berlangsung.

Sebuah patung Bung Karno dalam posisi duduk dan sedang memegang buku dengan tinggi sekitar 2 meter, akan tampak pertama kali begitu pengunjung memasuki halaman komplek makam Bung Karno dari arah selatan. Patung yang terlihat dari luar gedung itu tampak elegan. Melengkapi nuansa kemegahannya, tampak pula deretan pilar-pilar setinggi 6 meter pada bangunan terbuka di bagian tengah komplek, berjejer dengan kolam ikan yang memanjang dari arah utara-selatan. Pada bangunan terbuka yang berfungsi sebagai open theater itu, pengunjung juga dapat melihat relief perjalanan hidup Soekarno dan manuskrip proklamasi yang terpahat di dinding.