Salah seorang teman, saya biasa memanggilnya Mbak Ika, pada suatu hari asyik membicarakan isi sebuah buku yang berjudul "Si Parasit Lajang" karya Ayu Utami, dengan teman sekosnya. Waktu itu saya tak tertarik sama sekali meski Mbak Ika berkali-kali mengompori, membujuk, merekomendasikan buku itu untuk saya baca. Lain waktu, seperti kebiasaan saya tiap libur semester, saya selalu berusaha meminjam banyak buku ke kenalan-kenalan saya untuk saya bawa pulang kampung, dibaca di rumah selama liburan. Saya langsung menodong Mbak Ika agar mau meminjamkan koleksinya. akhirnya saya berhasil memborong beberapa bukunya, diantaranya AADC Sebuah Skenario, Mereka Bilang Saya Monyet, Sungai Air Mata, dan Si Parasit Lajang (SPL).
Pelan-pelan saya baca SPL sampai tamat. Saya resapi. Benar saja, setelah membaca buku kumpulan esai Ayu Utami itu, saya terkesan. Saya dapat sebuah pencerahan baru. Saya disadarkan oleh pemikiran-pemikiran Ayu Utami yang cerdas dan penuh perenungan itu.
Tiba-tiba pikiran dan tangan saya tergerak untuk menulis. Saya ungkapkan rasa kecewa saya kepada pihak-pihak yang selama ini begitu merendahkan perempuan, menindas hak-haknya, memandang kiprahnya dengan sebelah mata, menyia-nyiakannya dan menomorduakannya dalam segala hal. Entah siapa saja mereka.
Saya menulis dengan berapi-api. Saya begitu terprovokasi membela kaum saya karena Ayu Utami. Daya bius SPL begitu kuat plus dahsyat, hingga saya sejenak jadi benci sama yang namanya laki-laki! Termasuk calon suami saya sendiri, he..he.. Waktu itu saya mampu menyelesaikan beberapa karangan, diantaranya cerpen It's Me Uki (IMU). Saya puas bisa menuangkan uneg-uneg saya sampai tuntas. Dada saya mendadak plong.
