Ketan biasanya beredar di pagi hari—berbarengan dengan
bukanya pasar—atau malam hari, sebagai teman minum kopi di warung-warung. Kalau
siang atau sore sulit ditemui. Ada nggak penjual ketan yang bisa dicari
sepanjang waktu?
Resep ini ada di salah satu buku cerita untuk anak yang saya tulis, yang InsyaAllah akan terbit tahun ini :)
Saya mengambil resep aslinya dari booklet Majalah Sekar, tapi saya modifikasi sedikit, hehe..
Waktu saya memosting foto camilan ini di facebook saya, ada yang menebak bagian yang panjang menjulur-julur bak kumis naga ganteng itu adalah mie, ubi parut goreng, bahkan ada yang mengira itu roti tawar. Hadeuh, tambah meleset jauuuuh ini mah tebakannya, hahaha...
Dalam sehari semalam, waktu yang paling saya sukai adalah
menjelang tidur. Setelah seharian berkutat dengan beragam kesibukan, momen
menjelang tidur adalah momen penuh kehangatan saat saya, suami, dan anak bisa
saling mendekatkan diri dalam sebuah kebersamaan. Dengan kondisi rileks, kami
bisa melakukan banyak aktivitas yang menyenangkan.
Saya menikah dengan seorang pegawai yang bekerja di bawah
naungan Kementerian Keuangan. Sejak awal menikah, saya sudah menyiapkan mental
untuk hidup berpindah-pindah keliling Indonesia mengikuti tugas suami yang
menurut peraturan akan dimutasi setiap lima tahun sekali. Ternyata praktiknya
tidak ada kepastian baku tentang ini. Seringkali gosip mutasi membuat kami para
istri pegawai deg-degan, karena
kemunculan SK mutasi ini seperti siluman, serba mendadak dan tiba-tiba. Karena
itulah, meski siap mental, tak urung saya panik juga saat SK mutasi sudah di
genggaman tangan.
Setiap memosting foto makanan di facebook, saya
sering menerima komentar seperti ini, “Kenapa nggak nulis buku resep aja?” Bukannya
saya nggak tertarik, tetapi saya nggak pede. Secara, kualitas foto bidikan saya
masih jauuuuh dari sempurna dibandingkan dengan foto-foto jepretan food photographer profesional, cenderung
asal malah. Lagian, siapa saya? Selebriti chef bukan, koki warung kaki lima bukan, ujug-ujug mau
nulis buku resep. Hadeuh!
Sejak remaja saya suka mencatat
ungkapan-ungkapan hikmah, kata-kata motivasi, dan ayat-ayat Alquran yang
membangkitkan semangat. Setiap saya menemukan ketiganya saat membaca, mendengar
nasihat, atau menyaksikan suatu tayangan, saya catat di buku khusus. Saya menamainya
buku ajaib, karena catatan-catatan dalam buku itulah—salah satunya—yang ikut menggerakkan
saya untuk selalu melakukan yang terbaik untuk hidup.