Di sekitar saya banyak sekali orangtua ‘tega’. Cirinya, mereka punya banyak anak (rata-rata lebih dari empat orang) tapi ‘dibuang’ semua ke pesantren. Kalau tidak ke pesantren, dikasihkan keluarga dekat yang nggak bisa punya anak, dititipkan ke nenek atau saudara sampai si anak besar, dll. Tanpa mereka sadari, sebenarnya mereka sedang berlindung dari ketidakmampuan mereka mengurus anak-anaknya dengan baik. Lalu, kenapa dulu bikin anak banyak kalau tidak bisa mengurus dengan tangan sendiri?
Translate
Minggu, 10 Mei 2009
Senin, 20 April 2009
Akhir Perjuangan Panjang Itu
Kematian. Manakah yang lebih diinginkan: meninggal pelan-pelan (dengan didahului sakit dalam jangka waktu yang lama), atau meninggal seketika (kecelakaan di jalan misalnya)? Sepintas, keduanya sama-sama meninggalkan duka yang mendalam. Bedanya, cara pertama membuat orang-orang yang akan ditinggalkan merasa lebih siap, karena sebelumnya sudah ada ‘warning’. Meski berduka, mungkin tidak terlalu berlarut-larut. Cara kedua, karena sifatnya yang tiba-tiba, tak jarang membuat orang-orang yang ditinggalkan merasa amat terpukul dan sangat kehilangan, karena mendadak dan tidak ada tanda-tanda. Shock berkepanjangan menjadi salah satu dampaknya.
Sabtu, 21 Februari 2009
saya tahu, jadi Ibu itu berat.
“Sejak mbak kerja, Raya kelihatan kurusan ya..?” ucap seorang teman, istri teman sekantor suami.
Saya langsung tertohok.
Benarkah? Ah, siapa bilang. BBnya juga gak pernah turun kok, bela saya dalam hati.
Jujur, ucapannya sangat mengganggu pikiran saya akhir-akhir ini. Ada sebersit rasa bersalah. Benarkah si kecil merasa ditelantarkan? Benarkah suami merasa diabaikan? Benarkah saya tidak becus jadi istri sekaligus Ibu? Dan sederet pertanyaan lainnya, menghantui saya setiap saat.
Saya merenung, mengingat apa saja tugas ibu rumah tangga yang menurut saya, sudah saya lakukan dengan baik.
Alhamdulillah, meski sibuk, sehari-hari saya masih bisa menyempatkan memasak untuk keluarga. Hanya sesekali saja kami makan di luar, karena makanan di luar kan jarang yang tidak memakai penyedap, hampir semua pakai. Di rumah, saya menghindari penyedap dan sebisa mungkin menggunakan bahan-bahan segar yang kaya gizi. Untuk urusan makan, saya memang cukup hati-hati. Saya ingin keluarga saya sehat dan tidak mudah sakit.
Minggu, 01 Februari 2009
Penantian Raia
Cerpen: RF.Dhonna
“Tok… tok… tok… !” Raia terkesiap. Angin malam yang mendesau pelan tak mampu mengubah kecepatan detak jantungnya yang semakin tak beraturan. Raia merengkuh keempat buah hatinya, bukan sekedar untuk menghalau dingin, tapi juga memberi rasa aman. Ia tak ingin kehilangan satu pun dari mereka, karena saat ini, merekalah satu-satunya harta yang dimilikinya. Raia segera teringat pesan terakhir suaminya. Perlahan diraihnya sebuah pistol yang selama ini disimpannya di bawah bantal. Tangannya gemetar. Akankah malam ini menjadi malam berdarah pertama yang ia alami setelah bertahun-tahun lamanya benda ini hanya disimpannya tanpa sekalipun ia fungsikan?
Dipeganginya dada kirinya yang mulai terasa nyeri. Tapi ia tak peduli. Sambil melangkah ke pintu, pandangan wanita itu tak lepas dari keempat buah hatinya yang meringkuk di atas tempat tidur. Keringat dingin mulai membasahi piyama merah hati pemberian suaminya di malam pengantin. Hampir tiap malam ia memakainya., karena ia yakin, meskipun tanpa kabar, suaminya yang merantau ke negeri orang itu sewaktu-waktu pasti pulang. Memakai piyama ini, Raia merasa bercumbu dengan suaminya setiap malam. Tiba-tiba bayangan sang suami berkelebat di depan matanya.
“Aku akan pergi ke seberang dalam waktu yang lama. Apa yang kau inginkan sekembalinya aku dari sana ?”
“Aku hanya ingin kebahagiaan. Tapi… benarkah kebahagiaan itu harus dicari di negeri seberang? Lalu, apakah kelak kau bisa membawakannya untukku?”
“Raia, aku akan mencarikannya untukmu, juga untuk anak-anak kita,” ucap laki-laki itu mesra sambil membelai lembut rambut istrinya yang tergerai panjang. “Meskipun aku harus terbang ke ujung dunia sekalipun, aku pasti membawanya ke hadapanmu.” janjinya manis. Raia melambung, tapi hanya sesaat.
“Kau akan meninggalkanku dan anak-anak kita?” tanya Raia sedih.
“Raia, aku pasti kembali padamu.”
Raia menggeleng, “Tidak, kau bohong! Kau meninggalkanku karena aku sudah tak mampu lagi memberimu kepuasan. Juga karena kanker yang kuderita. Kau memilih pergi jauh agar aku tak lagi menjadi beban pikiranmu? Ya, kan ?!” Tiba-tiba Raia meradang. “Ternyata kau…”
Kamis, 29 Januari 2009
Pelajaran Buat Nanda
Cerpen: R.F Dhonna
“Banguuuun!” teriak Tweety kencang. “Banguuun, Nanda!” serunya sekali lagi. Percuma, Nanda tak bergeming. Tweety berteriak untuk ketiga kalinya, dilanjutkan teriakan keempat, kelima… yup! Nanda mulai menggeliat. Tweety bersorak girang.
Nanda membuka matanya perlahan, lalu dipukulnya Tweety dengan gemas hingga, “AUW!” Tweety terpelanting ke kolong tempat tidur.
“Aduh… sakit…,” ratap Tweety pelan. “Katanya minta dibangunin jam lima. Udah dibangunin sampai pita suaraku hampir putus, eh, nggak dipeduliin, malah dapat pukulan lagi. Hu… hu…,” gerutu si pipi gembul itu sambil menangis.
“Ada apa lagi, Ty?” ternyata di kolong itu ada Casio.
“HWA…!” ditanya begitu, tangis Tweety semakin keras. “Aku dipukul lagi, padahal aku sudah menjalankan tugasku dengan baik…,” adunya pada Casio.
“Sudahlah, kamu nggak sendiri. Nasib kita sama, Ty. Kita cuma bisa mengingatkan Nanda. Kalau toh, nanti Nanda mengalami kejadian buruk, itu bukan kesalahan kita. Yang penting, kita sudah mengingatkan,” ucap Casio bijaksana.
“Tapi aku kasihan sama Nanda. Lama-lama dia bisa jadi pemalas.”
“Iya sih, tapi kita bisa apa?” sejenak keduanya berpikir.
“Bagaimana kalau kita beri dia pelajaran?” cetus Tweety.
“Maksud kamu?” Casio balik bertanya. Tweety segera membisikkan idenya itu ke telinga Casio. Casio tampak manggut-manggut.
Si Cantik Sharma
Oleh: RF.Dhonna
Pada sebuah desa kecil di India , hidup seorang wanita bersama putri semata wayangnya yang cantik jelita, namanya Sharma. Kecantikannya terkenal di seluruh pelosok desa. Gadis itu gemar bersolek. Setiap hari dia tak pernah lepas Dari sebuah cermin kecil yang selalu dibawanya kemanapun ia pergi.
Sebenarnya tak sedikit pemuda yang ingin memperistri Sharma. Tetapi akhirnya mereka mengurungkan niatnya. Melihat hal ini, sang Ibu khawatir dengan nasib putrinya yang tak kunjung mendapatkan pendamping hidup.
Pada suatu hari, ada seorang pemuda Dari desa seberang yang ingin melamar Sharma. Dia seorang pemuda yang tampan, kaya, dan baik hati. Ibu Sharma sangat bersuka cita mendengarnya. Pagi buta, sang Ibu sudah pergi ke pasar untuk membeli bahan-bahan makanan. Ia ingin menjamu pemuda itu.
Ibu Sharma segera meminta bantuan Tuan Karan, tetangganya, untuk menangkapkan ikan tuna di sungai depan rumahnya. Ia akan mengolah ikan itu menjadi masakan yang lezat dan istimewa.
“Sharma, ibu akan ke pasar. Kau bisa membantu ibu memasak ikan tuna dengan kuali ini kan ?” kata sang Ibu sebelum berangkat. Mata gadis itu terbelalak melihatnya.
“I-iya, Bu,” Sharma tergagap. Dia bingung, bagaimana mungkin ikan sebesar dan sepanjang lengan manusia itu dimasak dalam kuali kecil?
Sepeninggal sang Ibu, Sharma tidak tahu apa yang pertama kali harus dilakukannya. Gadis itu berjalan mondar-mandir, duduk lama-lama memandangi kuali dan ikan tuna dihadapannya secara bergantian, lalu bangkit dan duduk lagi. Sampai akhirnya ia menemukan sebuah ide. Lalu Sharma meninggalkan ikan itu tergeletak di atas meja dapur.
“Nyonya, apakah Anda punya kuali panjang?” tanya Sharma kepada Nyonya Kana, tetangga sebelah rumahnya.
Kening wanita itu berkerut, sebelum akhirnya mengatakan tidak punya.
Sharma mencoba mendatangi rumah tetangganya yang lain. Kali ini dia ke rumah Nenek Shanggita. Sharma langsung menuju dapur nenek tua itu.
Rabu, 28 Januari 2009
Perempuan-perempuan yang Menemuiku
Cerpen: R.F Dhonna
Seorang ibu termangu di sebuah bangku panjang, tepat di bawah pohon asam. Perempuan itu menanti putrinya pulang sekolah di bawah pohon yang ditanam di samping kanan gerbang sekolah dua puluh tahun yang lalu. Sembari menunggu, ia akan bercakap-cakap dengan beberapa orang pedagang kaki lima yang sudah lama dikenalnya akrab, yaitu sejak putrinya yang kini berusia lima belas tahun itu baru menjadi siswa sekolah ini. Karena itulah ia keasyikan, tak pernah bosan atau mengeluh, walaupun setiap hari harus antar-jemput putrinya sekolah. Tak hanya sekolah, tetapi juga aktivitas lain. Mulai kegiatan ekstrakurikuler, les renang, les modelling, dan kursus bahasa Inggris. Semua dilakukannya sendiri, tanpa sopir pribadi.
Aku juga termasuk salah seorang yang sering diajaknya bicara. Perempuan itu akan menemuiku di ujung trotoar bila merasa membutuhkanku. Ia akan segera duduk bersila sepertiku, menatap lalu lalang kesibukan pengguna jalan di hadapan kami, lalu mulai berkisah tentang buah hatinya yang sangat ia banggakan.
Langganan:
Postingan (Atom)