Translate

Kamis, 08 Maret 2012

Resep Menulis Cerpen



Menulis adalah keterampilan menuangkan gagasan melalui lambang-lambang grafis yang melambangkan suatu bahasa. Keterampilan menulis melatih seseorang untuk berkreasi, berimajinasi, dan bernalar. Kaidah penulisan teks sastra seperti prosa fiksi, drama, atau puisi; tentu saja berbeda dengan kaidah penulisan teks non sastra. Jika penulisan teks sastra lebih menekankan kreativitas yang diolah dari pengalaman dan imajinasi, penulisan teks non sastra menekankan pada pengetahuan dan objektivitas dalam bernalar.
Ceita pendek (cerpen) merupakan bagian dari prosa fiksi. Penulisan cerpen berbeda dengan penulisan jenis prosa fiksi lainnya. Cerpen isinya lebih singkat dari novel, karena itu bentuk tulisannya juga lebih pendek.
Secara umum, cerpen disebut sebagai bacaan sekali duduk. Menulisnya juga tidak terlalu memakan waktu. Menulis cerpen diantaranya bermanfaat untuk mengasah daya cipta, mengembangkan imajinasi, dan mempertajam empati. Cerpen yang dikirim ke media dan dipublikasikan, biasanya akan mendapat honorarium dengan jumlah tertentu. Jika seseorang hobi menulis cerpen dan serius menekuninya, maka penulis cerpen bisa dijadikan profesi yang menghasilkan.

Cerpen
Harris Effendi Thahar mendefinisikan cerpen sebagai salah satu jenis prosa fiksi, cerita naratif yang ditulis secara singkat. Fiksi berarti kisah yang tidak nyata, tidak benar-benar terjadi. Fiksi adalah fakta yang terhimpun dalam pengalaman batin seorang pengarang, lalu dikreasikan kembali dengan imajinasinya, sehingga menjadi sesuatu yang hidup dan  menjadi suatu kenyataan baru. Arswendo menyebut ‘kenyataan baru’ itu sebagai realitas imajinatif, kenyataan yang dihasilkan dari imajinasi.
Jenis Cerpen
Secara umum, cerpen digolongkan menjadi cerpen sastra dan cerpen populer. Cerpen sastra mempunyai ciri yang khas. Dilihat dari temanya, cerpen sastra biasanya mengangkat masalah kemanusiaan dan makna kehidupan. Penggarapannya juga serius, karena itu tak heran jika kesan sebuah cerpen sastra dikenang dalam waktu yang lama oleh pembacanya. Cerpen sastra mengajak pembacanya untuk berpikir dan merenungkan sesuatu secara mendalam. Hal ini berbeda dengan cerpen populer. Tema cerpen populer biasanya seputar percintaan laki-laki dan perempuan. Penggarapannya cenderung kurang memperhatikan unsur-unsur yang bersifat substansial, sehingga ketika pembaca membaca bagian awal sudah terbayang bagaimana akhirnya. Dengan kata lain, fiksi populer cenderung menyenangkan pembacanya.
Dalam perjalanannya, genre cerpen berkembang menjadi banyak jenis. Dilihat dari segi batasan usia, ada jenis cerpen anak dan cerpen remaja. Cerpen anak adalah cerpen untuk anak dengan kisaran usia hingga 12 tahun, sedang cerpen remaja adalah cerpen untuk anak dengan kisaran usia di atas 12 tahun hingga 18 tahun. Dari segi isi, ada cerpen misteri, cerpen fantasi, cerpen humor, dll.
Unsur-unsur Cerpen
Secara umum, unsur-unsur cerpen meliputi hal-hal sebagai berikut.
1.        Tema
Tema adalah dasar cerita, suatu konsep, ide, atau gagasan yang menjadi dasar diciptakannya sebuah cerpen. Dengan kata lain, tema adalah roh atau jiwa cerita.Tema bisa bersumber dari pengalaman sehari-hari atau imajinasi penulis. Tema-tema seperti petualangan, misteri, kekeluargaan, kehidupan sehari-hari sekitar lingkungan hidupnya, adalah tema-tema cerita yang disukai anak-anak usia peralihan.
2.        Tokoh dan Penokohan
Tokoh dalam cerpen adalah pelaku cerita. Untuk menentukan tokoh, ada beberapa pertanyaan yang harus dijawab, misalnya siapa tokoh utama dan tokoh pelengkapnya, bagaimana ciri fisiknya, seperti apa karakternya, dsb. Sedang penokohan dalam cerpen berkaitan dengan perwatakan tokoh, apakah tokoh itu jahat atau baik, bagaimana kesehariannya, bagaimana kondisi kejiwaannya, dsb. Dengan kata lain, tokoh dan penokohan merupakan cara seorang penulis cerita untuk mendeskripsikan tokoh yang diciptakannya.
3.        Alur/Plot
Alur/plot adalah jalan cerita, bagaimana sebuah cerita dirangkai dari awal hingga akhir. Ada beragam jenis plot.
Berdasarkan bagaimana sebuah cerita diakhiri (ending cerita), plot dibedakan menjadi plot terbuka, plot tertutup, plot lembut, dan plot ledakan. Penjelasannya sebagai berikut.
a.       Plot terbuka cenderung membuat pembaca cerpen penasaran, karena penulis menyerahkan akhir cerita kepada pembacanya. Pembaca dibiarkan menerka-nerka akhir cerita menurut pemikirannya. Plot ini memungkinkan sebuah cerita ditulis kelanjutannya seperti cerita bersambung.
b.      Plot tertutup adalah plot yang sudah jelas akhirnya, sedih atau bahagia.
c.       Plot lembut adalah cerita yang berakhir seperti bisikan, dapat ditebak oleh pembaca.
d.      Plot ledakan adalah plot yang memiliki cerita dengan akhir yang mengejutkan, tidak disangka-sangka, melenceng dari dugaan sebelumnya.
Berdasarkan waktu pengisahan, alur atau plot dibedakan menjadi alur maju, alur mundur (flash back), dan alur campuran. Penjelasannya sebagai berikut.
a.       Pada alur maju,  waktu pengisahan sebuah cerita (kronologi cerita) berjalan maju tanpa mengisahkan masa yang sudah lewat (masa lampau).
b.      Pada alur mundur, sebuah cerita dikisahkan secara mundur, cenderung mengisahkan masa lalu.
c.       Alur campuran merupakan perpaduan keduanya, kadangkala cerita berjalan sesuai urutan waktu, kadangkala melompat ke masa lalu, kemudian kembali lagi ke masa kini.
Dalam alur terdapat rangkaian peristiwa. Rangkaian peristiwa tersebut lazim disebut tahapan alur. Tahapan alur secara umum terdiri dari eksposisi (pengenalan), konflik, perumitan, klimaks, antiklimaks, dan penyelesaian.
4.        Latar/Setting
Latar adalah latar belakang cerita. Secara umum setting dibedakan menjadi setting tempat (dimana sebuah cerita terjadi), setting waktu (kapan sebuah cerita terjadi), dan setting suasana (bagaimana suasana sebuah cerita)
5.        Sudut Pandang (Point of View/PoV)
Sudut pandang adalah bagaimana penulis menceritakan kisah yang ditulisnya, apakah menggunakan sudut pandang orang pertama (aku, saya), menggunakan sudut pandang orang kedua (kamu, kau), atau menggunakan sudut pandang orang ketiga (penulis berada diluar cerita dan biasanya bertindak ‘serba tahu’).
6.        Gaya Bahasa
Gaya bahasa adalah kemampuan pengarang menggunakan suatu bahasa untuk mengungkapkan ceritanya. Di samping unsur-unsur lainnya, gaya menentukan keberhasilan sebuah cerita. Secara tradisional dikatakan bahwa keberhasilan sebuah cerita bukan pada apa yang dikatakan, tetapi bagaimana mengatakannya. Kalimat-kalimat yang enak dibaca; ungkapan-ungkapan yang baru dan hidup; suspense yang menyimpan kerahasiaan; pemecahan persoalan yang rumit, namun penuh tantangan, pengalaman-pengalaman baru yang bernuansa kemanusiaan, dan sebagainya merupakan muatan gaya yang membuat pembaca terpesona. Di samping sebagai tanda seorang pengarang, gaya tertentu mampu menyedot perhatian pembaca untuk terus membaca. Bersama elemen lainnya seperti penggunaan sudut pandang yang tepat, pembukaan dan penutup yang memberi kesan tertentu, gaya adalah salah satu kunci yang menentukan berhasil atau gagalnya sebuah cerita.
7.        Pesan/Amanat
Pesan dalam cerpen adalah nilai-nilai kehidupan yang disampaikan penulis, seperti nilai moral, nilai agama, dsb. Khusus untuk penulisan cerita anak, ada beberapa catatan yang harus diperhatikan dalam menyisipkan pesan moral.
a.       Pesan moral dalam cerita yang dibuat sebaiknya tidak berupa dialog nasehat dari tokoh-tokoh keseharian yang memang sudah sering menasehati. Cerita model 'kena batunya', akan lebih mengena untuk menyisipkan pesan moral, ketimbang nasehat panjang.
b.      Hati-hati dengan tokoh anak-anak, yang tiba-tiba jadi serba tahu dan 'sok tua'. Kecuali kalau memang itu sidah jadi karakter yang membangun cerita.
c.       Dalam memberi nasehat, efek ganjaran (seperti menakut-nakuti) memang sering mengena. Namun sebaiknya juga jangan terlalu berlebihan. Misalnya, karena sekali mencuri seorang tokoh kemudian tangannya buntung.

Teknik Menulis Cerpen
Secara umum, modal dasar untuk menulis fiksi adalah kepekaan, kreativitas, dan daya imajinasi. Kepekaan melihat atau realitas akan meletikkan ide yang tak terduga. Dengan menghayati pengalaman, seseorang akan mudah mengangkap ide untuk menulis. Jika pengalaman yang didapat tersebut dipadukan dengan imajinasi, hasilnya adalah kreativitas.
Secara umum, langkah-langkah menulis cerpen adalah sebagai berikut.
a.       Menentukan Tema
Ide untuk pengembangan tema cerpen yang akan ditulis bisa digali dari fakta/realita sehari-hari (seperti pengalaman pribadi, cerita teman, dan buku harian), imajinasi (seperti khayalan dan mimpi), atau perpaduan antara fakta dan imajinasi (seperti buku fiksi dan film).
b.      Menentukan tokoh dan penokohannya.
Dalam proses ini, penulis menentukan siapa tokoh protagonis dan antagonisnya, lalu mendeskripsikan seperti apa ciri fisik dan watak khasnya, dsb.
c.       Menyusun  kerangka karangan (outline).
Menyusun outline bisa dimulai dengan membuat peta pikiran (mind mapping), lalu mengembangkannya menjadi kerangka utuh. Outline sangat berguna untuk mengingatkan apa yang ingin ditulis dan memudahkan penulis untuk mengedit hasil tulisan.
d.      Menulis ringkasan cerita/sinopsis/garis besar cerita.
Garis besar cerita berisi poin-poin peristiwa penting yang akan terjadi dalam cerita.
e.       Menjabarkan sinopsis menjadi cerita yang lengkap.
Proses ini adalah proses utama yang akan menentukan keberhasilan sebuah cerpen. Carmel Bird menyatakan ada dua pertanyaan penting yang akan membantu penulis cerpen untuk mengembangkan sinopsis yang telah dibuat. Pertanyaan ini berkaitan dengan tokoh cerita. Pertanyaan tersebut yaitu siapa mereka dan apa yang terjadi pada mereka? Jawaban pertanyaan ini akan membantu proses pengembangan cerita.
Ketika mengembangkan cerita, tidak jarang seorang penulis mengalami writer’s block, yaitu kondisi ketika menulis terasa sulit (istilah populernya ’macet’). Beberapa cara untuk mengatasi ’kemacetan’ ketika menulis diantaranya  dengan membaca dan menulis apa saja,  jalan-jalan, menonton film, olahraga, mendengarkan musik, berdiskusi (ngobrol) dengan teman     , mengamati hal-hal kecil (yang biasanya luput dari perhatian), dsb.
f.       Menentukan judul.
Judul cerpen biasanya ditulis secara singkat (tidak lebih dari lima kata). Judul yang baik adalah yang bisa menarik perhatian pembaca, unik, membuat pembaca penasaran (terkesan bombastis).

Hal-hal yang perlu diperhatikan ketika menulis cerpen:
a.       Paragraf pertama yang mengesankan
Selain judul, paragraf pertama menggambarkan ”etalase” sebuah cerita. Paragraf pertama itu kunci, kunci pembuka. Khususnya untuk cerpen. Karena merupakan karangan pendek, sebaiknya paragraf pertama langsung masuk ke pokok persoalan, dan bukannya melantur pada hal-hal yang klise apalagi jika kemudian terkesan mengurai. Hal tersebut tentunya hanya menghadirkan kebosanan bagi pembaca.
b.      Pertimbangkan pembaca dengan baik
Pembaca adalah konsumen, sedang pengarang adalah produsen. Produsen harus senantiasa mempertimbangkan mutu produknya agar dapat dipasarkan. Apalagi mengingat persaingan pasar yang semakin tajam. Pembaca sebagai konsumen, jelas memerlukan bacaan yang baru, segar, unik, menarik, dan menyentuh rasa kemanusiaan.
c.       Menggali suasana
Melukiskan suasana latar terkadang memerlukan detail yang apik dan kreatif. Penggambaran suasana biasa-biasa yang sudah dikenal umum, tidak akan begitu menarik bagi pembaca. Jika pengarang melukiskan kota jakarta, misalnya, tentang gedung-gedung yang tinggi, kesemerawutan lalu lintas, dan keramaian kotanya, berarti dalam penggambaran itu tidak ada yang baru. Akan tetapi, ketika sorang pengarang sekilas melukiskan keadaan kota jakarta dengan mengaitkannya dengan suasana hati tokoh ceritanya, tentu penggambaran itu akan menjadi begitu menyentuh.
d.      Menggunakan kalimat efektif
Kalimat-kalimat dalam sebuah cerita adalah kalimat berkategori kalimat efektif. Kalimat efektif adalah kalimat yang berdaya guna, yang langsung memberikan kesan kepada pembaca. Kalimat demi kalimat, baik dalam dialog maupun narasi, disusun seefektif mungkin, sehingga pembaca merasa mudah untuk menangkap maksud dari setiap bagian cerita itu. Di samping terampil menggunakan kalimat efektif, dalam menulis cerita kita dituntut pula memiliki kekayaan kosakata dan gaya bahasa. Hal tersebut tentu agar cerita itu mengalir dengan lancar dan tidak kering serta membosankan.
e.       Menggerakkan tokoh
Dalam cerita mestilah ada tokoh. Tokoh-tokoh yang hadir senantiasa bergerak secara fisik  atau psikis hingga terlukis kehidupan sebagaimana wajarnya dalam kehidupan sehari-hari. Menggerakkan tokoh misalnya dengan cara melukiskan gerak-gerik tokoh, mengaitkan dengan identitasnya, dsb.
f.       Fokus cerita
Pada dasarnya, dalam sebuah cerpen hanya ada satu persoalan pokok. Persoalan-persoalan lain di dalamnya berfungsi sebagai pendukung. Dalam cerpen, segala persoalan yabg ada terfokus pada satu persoalan pokok itu. Seperti halnya karya foto,  jika fokusnya kabur atau objeknya tenggelam dalam objek sekelilingnya maka karya foto itu bukan merupakan karya foto yang bagus. Sedangkan, foto yang bagus adalah foto yang fokusnya tajam. Hal-hal lain yang tergambar dalam foto itu, hanya merupakan faktor pendukung objek utama, yang tampak wajar dan artistik.
g.      Sentakan akhir
Cerita harus diakhiri ketika persoalan sudah dianggap selesai. Akan tetapi, kecenderungan cerita-cerita mutakhir sekarang adalah sentakan akhir yang membuat pembaca ternganga dan penasaran. Mestinya cerita tersebut masih ada lanjutannya, namun lanjutannya itu hanya berada di pikiran pembaca sendiri. Terserah, bagaimana pembaca menafsirkan akhir cerita meski teks cerpen sudah berakhir sebagaimana dikehendaki pengarangnya.
Pendek kata, akhir ceerita merupakan sentakan yang membuat pembaca terkesan. Kesan yang ditimbulkannya mungkin bermacam-macam. Ada yang senyum-senyum, menarik napas panjang atau merenung karena terharu tanpa harus menulis kata-kata sedih. Kuncinya dari semua itu ada pada sentakan akhir dalam paragraf penutup cerita itu.
Cerpen yang Menarik
Ada konvensi tidak tertulis yang selama ini disepakati oleh penulis dan pembaca cerpen, bahwa ciri cerpen yang menarik adalah sebagai berikut.                                 
a.       Ide orisinal dan segar                                                             
b.      ceritanya unik                                                                         
c.       teknik/cara menulisnya kreatif                                                           
d.      meninggalkan kesan mendalam pada pembaca                                  
e.       bisa memunculkan ide lain bagi pembaca      
f.       (khusus untuk cerpen yang dikirim ke media) sesuai dengan visi misi media yang dituju.
[RF. Dhonna]



Sumber:
Mengarang Itu Gampang (Arswendo Atmowiloto)
Menulis Dengan Emosi: Panduan Empatik Mengarang Fiksi (Carmel Bird)
Bahasa Indonesia untuk SMP/MTs Kelas IX (E.Kosasih & Restuti)
Kiat Menulis Cerita Pendek (Harris Effendi Thahar)
Milis Penulis Bacaan Anak.

1 komentar:

  1. Menurut Penulis, Cerpen Hanya Karena Cerita Itu bertemakan apa?

    BalasHapus

Terimakasih telah meninggalkan komentar 😊