Translate

Rabu, 14 November 2012

Jadi Orangtua yang Menyenangkan




Saat sudah menjadi Ibu seperti sekarang, saya sering tiba-tiba terkenang masa kecil. Saya ingat ketika Ibu membelikan saya permen coklat berbentuk payung di toko depan rumah, ingat waktu umur empat tahun ayah dan ibu mengajak saya rekreasi ke Bali, ingat saat tiap lebaran dapat baju baru, ingat waktu pertama kali diajak ortu jalan-jalan ke Kebun Binatang Surabaya (KBS), ingat ketika menemani ayah belanja di Pasar Turi pulangnya dibelikan es krim cone… . Semua itu membuat saya bahagia. Sampai  detik ini kesan itu masih terasa. Memori-memori masa kecil itu membuat saya berpikir, apa anak saya juga merasakan kebahagiaan yang sama, seperti yang saya rasakan dari perlakuan kedua orangtua saya dulu? Apa sebagai Ibu, saya sudah sukses menjadi Ibu yang menyenangkan bagi anak saya?
Menurut saya, menjadi ortu yang menyenangkan itu gampang-gampang susah. Mungkin ada ortu yang beranggapan bahwa dengan memberi limpahan materi kepada anak—misalnya membelikan mainan mahal, memberi uang saku lebih, dan kemewahan-kemewahan lain—anak akan merasa nyaman dan bahagia. Ada juga ortu yang tidak bisa memberi apa-apa tetapi selalu ada di samping anak, menemaninya belajar, dan setia mendengar keluh kesah anak, itu sudah membuat anak bahagia. Lalu apa sebenarnya ukuran agar bisa disebut sebagai orangtua yang menyenangkan?
Menurut saya, ada baiknya kita kembali ke masa kecil kita, menempatkan diri kita sebagai kanak-kanak lagi. Buatlah daftar, hal-hal apa saja yang membuat kita terkesan kepada ayah dan ibu kita, yang membuat kita bilang, “Ayah dan Ibu baiiiik banget!” Mungkin ada yang kurang setuju dengan cara ini, karena menganggap jaman sekarang sudah sangat berbeda jauh dengan jaman kita kecil dulu.  Sah-sah saja kalau berpendapat demikian. Jalan tengahnya, mungkin kita bisa menyesuaikannya dengan keadaan sekarang.
Beberapa waktu lalu saya iseng menyurvei beberapa teman, seperti apa pendapat mereka tentang orangtua yang menyenangkan itu. Rata-rata menjawab dari pengalaman masa kecil mereka, berdasarkan kacamata kanak-kanak mereka. Menurut mereka, orangtua yang menyenangkan itu diantaranya sebagai berikut.
(1)   Nggak bawel (demokratis).
(2)   Mengerti anak-anaknya. Setiap anak pasti mempunyai sifat yang berbeda. Nah, ortu yang baik itu adalah yang mengerti sifat anaknya. Misalnya, bisa menghadapi si manja biar nggak keterusan manjanya, atau yang pemarah biar nggak keterusan jadi pemarah. Intinya, bisa memperlakukan anaknya dengan baik dan benar.
(3)   Mau menemani anak bermain.
(4)   Nggak marah-marah kalau isi rumah diberantakin anaknya buat bermain.
(5)   Nggak ngomel waktu anaknya nyoretin tembok rumah.
(6)   Membolehkan anaknya bikin rumah-rumahan pakai tirai, selimut, dan jarik yang dipaku ke dinding.
(7)   Gampang diajak kompromi.
(8)   Sabar mendengarkan cerita anak-anaknya, sabar ketika anaknya sakit.
(9)   Tahu kesukaan anak-anaknya.
(10)    Nggak marah kalau anaknya dapat nilai jelek di sekolah.
(11)     Nggak membanding-bandingkan anaknya dengan anak orang lain.
(12)    Pintar mendongeng.
(13)    Gaya bicaranya lemah lembut dan penuh kasih sayang.
(14)     Bisa jadi teman curhat.
(15)    Nggak hobi nyuruh-nyuruh dengan gaya komandan.
(16)    Nggak suka melarang ini itu, karena biasanya terlalu banyak aturan yang kaku malah membuat anak menjauh.
(17)    Sering ngajak jalan-jalan.
(18)    Mau menemani anak belajar.
(19)    Sering ngasih hadiah ketika anak berbuat baik.
(20)    Bisa ‘mengikuti’ dunia anaknya, nggak ketinggalan jaman.
Itulah beberapa pendapat mereka. Kalau didata lagi, pasti daftarnya masih panjang. Hmm, kalau mencermati pendapat-pendapat di atas, sudahkah Anda menjadi ortu yang menyenangkan bagi putra-putri Anda? Yuk, sama-sama berusaha!

Dimuat di For Her Jawa Pos edisi Kamis, 21 Juni 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah meninggalkan komentar 😊