Translate

Senin, 04 Agustus 2008

setahun menyusui

 

Minggu pertama di bulan Agustus ini diperingati sebagai Pekan ASI Sedunia. Keunggulan ASI dibandingkan susu formula kini semakin diakui. Bahkan beberapa tahun terakhir ini Inisiasi Menyusu Dini (IMD) semakin gencar disosialisasikan.

Sebagai ibu muda, aku punya pengalaman tersendiri tentang menyusui putri pertamaku. Alhamdulillah, sampai detik ini aku masih bisa menyusui si kecil Raya yang sekarang usianya sudah setahun lebih. Mengingat awal menyusui, adalah sebuah proses yang melelahkan. Butuh perjuangan dan kesabaran. Kebetulan ketika melahirkan, aku berhasil melakukan IMD. Sayangnya setelah itu ASI-ku nggak keluar.


Hari-hari selanjutnya aku berjuang untuk mengeluarkan dan melancarkan ASI. Sementara waktu, atas anjuran bidan yang membantu kelahiran si kecil, terpaksa kuberikan susu kaleng untuk mencegah terkena penyakit kuning. Selama itu, setelah pemberian susu botol, si kecil tetap kususui meskipun ASI-nya nggak keluar setetespun. Ini berguna untuk merangsang keluarnya ASI. Berbagai anjuran lain pun kulakukan. Mulai dari membuat sayur katuk, bayam, daun singkong, dan sayur hijau lainnya; mengkonsumsi kacang-kacangan dan biji-bijian seperti kacang merah, jagung, kacang goreng; mengkonsumsi daging dan ikan laut; hingga menelan jamu-jamuan dan pil lancar ASI. Hasilnya nihil. Aku sempat putus asa dan berpikir hendak membatalkan niatku untuk menyusui si kecil selama dua tahun. Tiba-tiba di hari keempat setelah melahirkan, ASI-ku mulai keluar. Anjuran orang-orang yang sempat kuhentikan pun kembali kulakukan.

Begitu produksi ASI mulai banyak, pemakaian susu kaleng langsung kustop. Susu kaleng seharga 100 ribu yang baru dikonsumsi beberapa sendok itu langsung kuberikan temanku yang juga punya bayi tapi sudah lepas ASI. Lega rasanya melihat ASI keluar. Beberapa hari kemudian, usahaku untuk menyusui kembali menemui masalah : putingku lecet! Aduh, setiap si kecil menyusu rasanya sakiiit sekali. Mengatasi hal itu, bagian yang lecet kuolesi dengan cairan ASI. Ya, ternyata cairan ASI bisa dipakai untuk obat puting lecet. Seminggu kemudian, aku bisa menyusui tanpa kesakitan lagi.

Selesai satu masalah, masalah lain muncul. Kali ini dari aku sendiri. Rasa malas mulai menggodaku. Bayangkan, aku wajib menyusui si kecil setiap dua-tiga jam sekali. Pagi, siang, malam waktu orang lain tidur pun, aku tetap harus bangun dua jam sekali untuk menyusui. Duh, beraaaat! Apalagi aku termasuk orang yang sulit tertidur kembali kalau sudah terbangun. Belum lagi kalau si kecil pipis tengah malam, harus ganti popok segala. Alhasil, aku meminta kesediaan suamiku untuk menemaniku menyusui si kecil di tengah malam. Untung suamiku mau, hehe.. memang para suami harus mau, karena itu bentuk dukungan positif yang bisa memperbanyak produksi ASI. Lho, apa hubungannya? Begini, kalau istri merasa bahagia, nggak merasa sendiri mengurus anak, nggak stress akibat baby blues atau perasaan-perasaan nggak nyaman lainnya, produksi ASI otomatis meningkat. Sebaliknya, kalau semua dibebankan pada istri, sehingga istri mudah capek dan stress, ini bisa menghentikan produksi ASI. Enam bulan berselang, kadang-kadang perasaan malas itu masih muncul. Tapi sekarang, aku menyadari betul, betapa pentingnya ASI. Selain bisa menjalin kedekatan Ibu dan anak, ASI juga terbukti membantu anak tumbuh cerdas, berkembang secara optimal, dan kebal terhadap penyakit.

ASI adalah hak anak. Tak ada alasan untuk tidak memberikan ASI sama sekali. Apalagi karena alasan-alasan yang nggak masuk akal seperti takut payudara kendor, takut nggak cantik lagi, dll. Jangan salah, menyusui sehabis melahirkan tuh bikin badan kembali langsing lho… ;)  

Saat ini, meskipun aku sudah bekerja di luar rumah dan sering meninggalkan si kecil di penitipan anak, pemberian ASI tetap kulakukan. Caranya, karena Raya sudah setahun, kuajarkan padanya untuk minum susu formula juga disamping ASI. Minumnya nggak pakai botol, tapi pakai sendok. Raya mau. Jadi selama kutinggal kerja, Raya minum susu formula. Begitu aku pulang kerja, Raya minum ASI lagi.

Sebenarnya aku ingin melakukan pompa ASI, tapi terlalu banyak kendalanya. Tinggal setahun lagi menyusui, harus tetap semangat!


ket. foto: foto ini dimuat di tabloid NAKITA no. 488 edisi 9 Agustus 2008

2 komentar:

  1. Salam kenal...Pengalamannya hampir sama neeh mba anakku jg skrg 14 bln dan saat ini masih ASI...ayo mba mari kita semangat memberikan ASI sampai 2 tahun buat anak kita!!!

    BalasHapus
  2. salam kenal balik. yuuuuuk!!!
    pokoknya asi tetap yang terbaik deh...

    BalasHapus

Terimakasih telah meninggalkan komentar 😊