Translate

Selasa, 08 Agustus 2017

Tukang Mengadu



Mahasiswa saya (laki-laki) pernah cerita ke saya bahwa dia pernah mengalami perundungan (bullying).
"Kamu nggak cerita sama orangtuamu?"
"Nggak bu."
"Kenapa?" cecar saya waktu itu. Padahal perundungan yang dia alami cukup parah, sampai terjadi kekerasan fisik.


"Takut dibilang banci bu. Ada kesepakatan tidak tertulis dalam pergaulan kami: cowok kalau suka ngadu itu bukan cowok."
Saya kaget, begitukah?
"Trus waktu ortu lihat dan tanya luka kamu, kamu bilang apa?"
"Jatuh bu."
Duh... dia memilih bohong kepada orangtuanya daripada menceritakan kejadian yang sebenarnya. Apakah semua anak laki-laki kebanyakan seperti ini? Menyimpan sendiri kejadian tidak menyenangkan yang pernah dialami dan (mungkin) membiarkannya berulang bahkan bisa jadi lebih parah? Menurut saya, kok tidak sehat ya?
Iya saya tahu, anak harus dididik mandiri sejak kecil, dididik untuk mengatasi sendiri masalah-masalah yang ia hadapi agar kelak saat dewasa dia nggak tergantung kepada orang lain; lalu sebagai orangtua, jangan terlalu sering membantu anak karena hal itu lama-lama akan menyebabkan anak bermental rapuh; saya tahu.
Tapi di sisi lain, sebagai orangtua, saya harus membangun kedekatan dengan anak-anak melalui komunikasi, mendengarkan curhatan mereka, membangun bonding (ikatan) yang kuat dengan mereka dengan cara berkegiatan bersama-sama. Lalu apakah salah jika anak saya kelak jadi "tukang ngadu"?
.
Beberapa waktu lalu saya ikut seminar parenting dengan Astri Ivo sebagai narasumbernya. Beliau cerita, pernah sangat marah ketika seorang guru putranya di sekolah mengatakan "gitu aja ngadu" saat putranya mengalami perundungan di sekolah. Bertahun-tahun beliau membangun kedekatan dengan putranya, hari itu bangunan tersebut diruntuhkan oleh guru tsb. Yang dapat saya simpulkan dari cerita beliau, komunikasi antara anak dan orangtua itu sangat penting.
.
Banyak orangtua risau karena anaknya dijuluki sebagai 'tukang ngadu'. Dalam hal ini, saya memilih pro dengan julukan itu. Nggak masalah jika anak saya kelak dicap seperti itu. Apalagi untuk hal-hal yang terkait dengan pelecehan seksual dan kekerasan fisik. Saya akan menyediakan telinga saya untuk mendengar keluhan anak-anak saya hingga mereka berumahtangga. Dan saat mereka telah memiliki pasangan hidup untuk saling berbagi cerita, saya tidak akan mencampuri urusan mereka, kecuali mereka memintanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar