Translate

Jumat, 23 Agustus 2013

Proses Kreatif Novel 'Kerawing dan Batu Kecubung Biru' (1)




Akhirnya Kerawing dan Batu Kecubung Biru terbit!
Meskipun novel ini hasil duet dengan mbak Inni Indarpuri, rasanya excited banget, karena ini adalah novel pertama saya. Perjalanan novel ini sampai  bisa terbit saaaaaaaaangaaaat panjang dan berliku (hehe, saking lamanya). Baiklah, akan saya ceritakan  dari awal ^_^
Pertengahan 2011, sebuah penerbit buku  anak ternama akan mengadakan workshop kepenulisan di Surabaya. Penulis yang ingin mengikuti workshop wajib mengirimkan sinopsis naskah first novel untuk diaudisi. Proses audisinya ada tiga tahap. Tahap pertama seleksi sinopsis, tahap kedua seleksi dua bab pertama, dan tahap ketiga seleksi setengah isi novel.

Saya sudah lama sekali ingin menulis tentang anak Dayak. Pemicunya, pertama, setelah membaca novel Diantara Dua Cinta karya sahabat saya Inni Indarpuri yang bercerita tentang seorang guru muda yang mengajar di pedalaman Kalimantan Timur, saya jadi tahu kearifan-kearifan lokal masyarakat Dayak. Di novel itu juga diceritakan, mengapa anak-anak Dayak pedalaman banyak yang enggan sekolah.
Kedua, tanpa sengaja saya menemukan artikel di harian Kaltim Post yang mengulas tentang seorang peneliti asing yang diberi nama Dayak oleh pemangku adat Dayak. Namanya sangat cantik, yaitu Kerawing, yang artinya bintang kejora. Entahlah, ketika membaca nama itu, saya merasakan semacam aura magis. Bagi saya, nama itu sangat unik. Hm, sepertinya menarik nih, dijadikan judul cerita.
Sebab ketiga, suatu hari saya diajak suami jalan-jalan ke Pampang. Pampang adalah sebuah desa budaya yang terletak di utara Kota Samarinda, Kalimantan Timur. Mayoritas penghuni desa tersebut adalah orang-orang Dayak.

kunjungan pertama ke Pampang 

Pertama kali berkunjung kesana, beberapa anak Dayak menawarkan diri kepada saya dan rombongan untuk menari. Sebelum menari, seorang anak perempuan bermata sipit dan berkulit putih berhasil saya tawan untuk saya tanya-tanya. Saya taksir usianya sekitar delapan tahun. Anak itu bercerita banyak tentang kesehariannya, bahwa dia sudah bisa menghasilkan uang sendiri dari hobi menarinya, bahwa dia terbiasa berkomunikasi dengan para turis asing yang berkunjung ke Pampang, dsb. Saya jadi semakin terkesan dengan kehidupan anak Dayak. Dalam kepala saya menari-nari sebuah ide cerita tentang Pampang yang menurut saya sangat eksotis, dan bertekad suatu saat harus bisa mengeksekusinya menjadi novel.


Anak-anak Pampang hasil jepretan suami saya :)

Nah, ketika ada peluang mengikuti workshop menulis first novel, saya yang aslinya sulit menulis panjang tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu. Saya pun menulis dan mengirim sinopsis bakal novel yang saya beri judul Kerawing dan Batu Kecubung Biru. Dengan harapan, sinopsis yang saya tulis itu nantinya bisa lolos hingga seleksi akhir.
Alhamdulillah, tahap pertama dan kedua berhasil saya lewati. Sayang, novel saya gagal di tahap ketiga  (hiks!)

Bersambung....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah meninggalkan komentar 😊