Translate

Sabtu, 04 April 2015

Sekilas Fiksi: Antara Serius dan Populer



Cerita fiksi merupakan bagian dari karya sastra. Secara umum, fiksi adalah cerita rekaan, kisah tidak nyata, prosa naratif (karangan) imajinatif. Fiksi termasuk karya seni kreatif yang menonjolkan imajinasi penulisnya. Dalam sebuah karya, meskipun jalinan cerita yang ada pada karya tersebut berdasarkan kisah nyata, tetapi jika sudah diolah, ditambah dengan aneka ‘bumbu’ atau perubahan-perubahan lain (meski sedikit), maka karya tersebut bukan lagi kisah nyata, melainkan karya fiksi.

Horace, penyair Yunani Kuno, berpendapat bahwa karya seni yang bermutu harus memenuhi syarat dulce et utile, indah dan berguna. Oleh karena itulah, karya fiksi—entah itu berbentuk cerpen, novel, novelet, atau roman—sering dibedakan menjadi fiksi serius dan fiksi populer. Bagaimana ciri-ciri fiksi serius? Bagaimana pula ciri-ciri fiksi populer? 

Fiksi serius identik dengan fiksi yang bernilai seni tinggi, bersifat adiluhung, dan cenderung elit. Fiksi serius biasanya memiliki kontras-kontras yang ironis dan tidak hanya berpola seperti harapan pembaca (misalnya berakhir bahagia atau sebaliknya). Ciri berikutnya, fiksi serius mengangkat tema masalah kehidupan yang amat kompleks, bukan sekedar percintaan. Fiksi jenis ini merangsang daya intelektual pembacanya untuk ikut  sibuk merekonstruksikan duduk persoalan masalah dalam hubungan antar tokohnya. Sehingga, di samping memeroleh hiburan batin, pembaca fiksi serius biasanya juga mendapatkan pengalaman berharga; atau paling tidak, pembaca akan terseret untuk meresapi dan merenungkan secara lebih sungguh-sungguh tentang permasalahan yang dikemukakan pengarang melalui karya-karyanya. Terakhir, fiksi serius mengutamakan unsur kebaruan dan keaslian pengungkapan.

Adapun fiksi populer identik dengan fiksi bermutu rendah dan manfaatnya cenderung sebagai hiburan semata. Fiksi jenis ini cenderung sederhana, alurnya sebagai kekuatan utama dan biasanya klise (membaca awalnya sudah terbayang bagaimana akhirnya), tema berkisar pada percintaan remaja, bersifat artifisial, mengikuti selera pasar, bahasanya aktual dan cenderung kurang  baku. Selain itu, tema yang diangkat cenderung hanya mengungkapkan permukaan kehidupan, dangkal, tanpa usaha pendalaman, dan tidak inovatif.

Lalu, ketika kita ingin menulis karya fiksi, mana yang akan kita pilih? 

Menurut saya, saat kita sudah berhasil menemukan ide, kita tidak perlu risau memikirkan jenis fiksi apa yang akan kita tulis. Tulis saja dengan sepenuh hati, tulis dengan sebaik-baiknya! Masalah karya kita tergolong fiksi serius atau populer, biarkan pembaca yang menilai. Jika belum menulis kita sudah memikirkan ‘fiksi serius atau populer?’ jangan-jangan tulisan kita nanti tidak selesai, betul nggak?

Jadi, mari kita menulis fiksi dengan bebas! ^^

Referensi:
Rahmanto, B & P. Hariyanto. 1999. Cerita Rekaan dan Drama. Jakarta: Universitas Terbuka.

8 komentar:

  1. Bener bu, saya sering nulis tapi gak selesai. Kebetulan, saya juga lama gak nulis lagi. Tapai saya dominan nulis ngawur sih bu. hehehe
    Pengeng nulis yang bener-bener, entah kenapa setelah mengikuti kelas menulis fiksi dengan teori-teori yang didapat saya jadi tambah linglung mau mulai menulis. Seakan-akan menulis itu memerlukan konsep atau menulis itu harus berkiblat pada teori-teori yang sudah ada.
    Sebenarnya bagaimana sih bu ?
    Apa saya salah ? saat saya menulis saya mengesampingkan teori-teori dan konsep itu ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, ternyata jadi tambah bingung ya? Sama, dulu saya juga pernah mengalami kebingungan seperti Yeny, dan ini lumrah terjadi. Nggak pa-pa, nggak salah kalau Yeny nulis tanpa mikir teori dan konsep, asal itu membuat Yeny jadi lancar menulis. Saran saya, saat menulis, buang jauh-jauh teori dan konsep. nah, kalau tulisan sudah jadi, boleh diintip lagi teori/konsep yang sudah dipelajari :). oke Yen?! Semoga Yeny bisa produktif lagi ya menulisnya. saya juga masih sering kok nulis ngawur, yang penting ide di kepala bisa dikeluarkan, hehe. Semangat Yen!

      Hapus
    2. Bu, maksud dari bersifat artifisial itu apa ya bu ?

      apa itu juga masih bisa disebut karya fiksi? jika membuat karya fiksi hanya sekedar becerita dalam tulisan tersebut tanpa ada percakapannya?

      Hapus
    3. artifisial maksudnya dibuat-buat, istilah sekarang lebay, hehe. karya fiksi tanpa percakapan boleh kok. dialog itu dihadirkan supaya pembaca tidak bosan. kalau tanpa percakapan tapi penulis bisa membuat tulisannya tetap menarik & tidak membosankan, mengapa tidak?

      Hapus
    4. Ibu, dalam satu cerita bolehkan ada dua sudut pandang?

      Hapus
  2. iya setuju mba donna, yang penting mulai menulis tidak usah galau kalau naskah kita ngepop...

    BalasHapus

Terimakasih telah meninggalkan komentar 😊