Translate

Sabtu, 13 Juni 2015

Pais Patin ala Tetangga Saya


Beberapa bulan yang lalu ada tetangga yang mantu. Saat bantu-bantu di dapur, saya dan para tetangga lain yang sedang mrabot (bahasa Lumajang, artinya bantu-bantu masak untuk hajatan, hehe), si empunya rumah mengajak kami makan siang bersama. Menunya saat itu macem-macem. Ada ikan asin, sayur asem, urap, tempe dan ikan layang goreng, sambel trasi, dan pais patin. Entahlah, saat itu tangan saya tergerak mengambil pais patin, dan pilihan saya nggak salah, paisnya enak banget! Rasanya gurih seger, beda sama pais patin banjar yang rasanya (menurut saya) berat karena kebanyakan bumbu. 

Sambil nyantap (bahasa banjar, artinya makan, hehe), saya bertanya ke tetangga saya, bumbu paisnya apa saja. Ternyata bumbu utamanya cuma bawang putih-merah, kemiri, cabe merah (kalau nggak suka pedas, bisa buang bijinya), daun kemangi, dan tomat (bisa diganti belimbing wuluh). Oiya, pais itu sama dengan pepes, hehe…

Saya pun mencoba memasaknya di rumah. Caranya, haluskan bawang merah-putih, kemiri, dan cabe merah yang digoreng sebentar dengan sedikit minyak, tambahkan garam dan gula secukupnya. Setelah halus, campur dengan potongan patin yang sudah dibersihkan. Kalau sudah tercampur rata, bungkus satu-satu pakai daun pisang. Jangan lupa memasukkan potongan tomat dan petikan daun kemangi ke dalamnya. Kukus selama 20 menit.




Pais patin yang baru diangkat dari kukusan, dicampur nasi putih pulen, uma ai, nyaman banar…!*

*bahasa banjar, artinya kurang lebih: wow, enak bangeeet *_^
 

2 komentar:

  1. Balasan
    1. aku dadi eling pas kos biyen hep, hobimu kan titil-titil masakanku, hahahaha...

      Hapus

Terimakasih telah meninggalkan komentar 😊