Translate

Kamis, 27 Desember 2012

Jampersal



“Habis berapa kemarin?” tanya saya pada adik ipar yang baru melahirkan.
“Gratis, dapat jampersal,” jawabnya.
“Enak ya, gratis,” saya menimpali.
“Apanya yang enak? Habis ini wajib KB.”
“Maksud sampean?”
“Waktu ngurus Jampersal aku disuruh tanda tangan perjanjian bermaterai, Mbak. Isinya setelah melahirkan wajib KB. Tapi terserah milih yang mana.”
Jawaban adik ipar itu membuat saya tercenung. Rupanya program Jaminan Persalinan (Jampersal) itu tidak gratis seratus persen, tetapi ada embel-embelnya. Dan menurut saya, konsekuensi tersebut berpotensi merugikan perempuan. Yang membuat saya kaget, ternyata untuk perempuan berusia 35 tahun ke atas, setelah melahirkan dengan Jampersal wajib steril!
Hamil adalah hak perempuan. Begitu juga dengan KB. Saya heran, mengapa program KB lebih diutamakan untuk perempuan? Kenyataannya memang jarang ada laki-laki yang mau disuruh ikut KB. Bahkan untuk memakai kondom saat berhubungan intim dengan istri sendiri saja banyak yang menolak. Alasannya karena nggak nyaman. Memangnya perempuan nyaman ketika mereka disuruh nenggak pil KB tiap hari?!
Saya sering mendengar keluhan para perempuan pengguna alat kontrasepsi KB seperti pil, suntik, spiral, atau implant. Rata-rata mereka mengeluhkan efek negatif yang ditimbulkan seperti datang bulan tidak lancar, badan menggemuk, jerawatan, emosi labil (mudah stres), tumor rahim, dsb. Mereka ingin lepas dari alat-alat itu, tapi dilema. Di satu sisi mereka ingin mengatur jarak kehamilan secara alami, sedang di sisi lain suami tidak punya pengertian. Solusi perhitungan masa subur memakai perhitungan kalender yang mereka tawarkan ditentang oleh suami-suami mereka. Alasannya, cara tersebut terlalu ribet. Ah, saya rasa itu alibi untuk menutupi ketidakmampuan para suami itu dalam mengelola kesabaran.
Perempuan punya hak untuk hidup sehat dan bahagia. Bukan jamannya lagi memaksakan sesuatu yang bertentangan dengan hati nurani. Saya membayangkan, alangkah indahnya rumah tangga yang dibina dengan saling pengertian antar pasangan, tidak ada yang menjadi korban atas keegoisan salah satu diantaranya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah meninggalkan komentar 😊