Translate

Rabu, 28 Agustus 2013

Proses Kreatif Novel 'Kerawing dan Batu Kecubung Biru' (2)







Pada bagian sebelumnya saya sudah cerita tentang embrio novel ini

Saat lolos tahap pertama dan dinyatakan berhak mengikuti workshop, saya sempat mempresentasikan sinopsis novel ini di depan redaktur penerbit penyelenggara. Disaksikan puluhan peserta lain yang mengikuti workshop, saya kemukakan alasan-alasan saya, mengapa saya mengangkat isu pelestarian alam. Saya sadar tema yang saya pilih ‘terlalu berat’ untuk anak-anak, karena di dalamnya menyinggung masalah maraknya penambangan batubara di bumi Kalimantan Timur. Tetapi saya maju terus dengan semangat ingin mengusung sesuatu yang Indonesia Banget!


Lebih dari itu, jauh di lubuk hati, sebenarnya saya sangat prihatin dengan kondisi alam Kalimantan Timur. Setiap berkunjung ke pelosok Kalimantan Timur untuk mengajar para mahasiswa yang kuliah jarak jauh, selalu ada yang membuat hati saya miris. Sepanjang perjalanan, saya menyaksikan bukit-bukit dikeruk untuk penambangan batubara, sementara banyak bekas penambangan yang ditinggal begitu saja tanpa diuruk kembali, jalan-jalan utama rusak parah, dsb. Belum lagi berita-berita sadis tentang penembakan orang utan di belantara Kalimantan Timur. Ngeriiii…. Selain itu, saya juga prihatin melihat potensi wisata alam di Samarinda, ibukota Kalimantan Timur, yang tidak terkelola dengan baik. Air Terjun Tanah Merah, Kebun Raya Unmul Samarinda, dan Desa Budaya Pampang misalnya, seandainya pemerintah mau memerhatikan, tempat-tempat itu pasti bisa mendatangkan banyak pengunjung. Selama ini spot-spot menarik itu sepi pengunjung karena pemerintah setempat mengabaikannya, malah cenderung mendukung pembangunan mall-mall besar yang membuat Samarinda semakin semrawut dan rajin disambangi banjir. Itulah mengapa, keinginan menulis cerita bersetting Kalimantan Timur begitu kuat mendesak tangan, hati, dan pikiran saya.

Lalu, mengapa saya memilih genre fantasi? Anak-anak menyukai kisah-kisah fantastis. Saat saya kecil pun, saya suka cerita-cerita semacam itu. Hal-hal ajaib, yang misterius, yang sakti dan di luar nalar membuat saya tertarik untuk membaca. Cerita fantasi bermanfaat untuk mengasah daya imajinasi anak.

Kembali ke perjalanan saya melewati tahap demi tahap seleksi first novel

Begitu lolos tahap sinopsis, berikutnya saya harus menyerahkan dua bab pertama untuk diseleksi lagi. Saya mulai berburu referensi yang bisa membantu saya menggambarkan detail setting dan unsur-unsur cerita lainnya. Saya pendatang di Kalimantan Timur sejak 2008. Sedikit banyak saya mengetahui adat istiadat dan budaya masyarakat setempat. Namun saya masih merasa perlu untuk menggali lebih dalam lagi melalui referensi-referensi yang saya kumpulkan, baik dari pengamatan langsung, wawancara, koran, internet, maupun dari buku-buku. Saya ingin serius menggarap novel anak ini. Meski mungkin sedikit, melalui novel ini saya ingin berkontribusi dalam mengampanyekan let’s go green, save the earth  serta ingin mempromosikan potensi wisata alam-budaya Kalimantan Timur.

sebagian referensi yang saya gunakan untuk menulis

Rampung menggarap bab 1 dan 2, sebelum mengirim untuk seleksi tahap kedua, saya sempat meminta seorang teman sesama penulis, Widya Rosanti, untuk mengomentari tulisan saya. Komentarnya yang positif turut mengobarkan semangat saya untuk menyelesaikan novel ini. Dan saat dinyatakan lolos ke tahap ketiga, membuncahlah kebahagiaan saya. Dari tahap akhir ini akan dipilih 3 naskah yang akan diterbitkan. Saya menulis hingga bab 7, dan segera saya kirim untuk seleksi akhir. Bayangan buku ini akan diterbitkan menari-nari di pelupuk mata. 

Bersambung....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah meninggalkan komentar 😊