Translate

Rabu, 28 Agustus 2013

Proses Kreatif Novel 'Kerawing dan Batu Kecubung Biru' (3)




Sekitar 2 bulan kemudian, naskah yang lolos tahap akhir diumumkan, dan sayangnya, saya gagal.
Gagal di tahap akhir sempat membuat saya sedikit kehilangan semangat. Saya pun gamang, antara menulis kelanjutannya atau stop sampai disini. Saya pun memilih stop. Selain belum jelas nantinya kalau selesai ada penerbit yang mau nerima atau enggak, saya juga blank, nggak punya bayangan sama sekali akhir kisahnya seperti apa.
Dengan berat hati saya simpan draf novel yang sudah setengah jalan itu. 

Tiba-tiba terbersitlah ide untuk meminta bantuan teman sesama penulis untuk melanjutkan. Saya colek-colek teman saya itu, eh, nggak nyangka, dia sangat antusias menerima ajakan saya untuk berduet menulis novel. Pasangan duet saya ini, Mbak Inni Indarpuri, tidak hanya melanjutkan novel ini sampai bab terakhir, tetapi sekaligus juga mengedit, memberi saran ini itu, merombak jalan cerita, mendiskusikan berbagai hal dalam novel, pokoknya seru!

September 2012 kami mencoba peruntungan ke sebuah penerbit besar. Kami kirim novel duet kami ke alamat email yang tertera di laman fanpage-nya. Sebulan lebih menunggu, kami belum mendapat konfirmasi penerimaan naskah (seharusnya ada, sekedar memberi tahu bahwa naskah sudah diterima). Kami inbox salah satu editornya. Beliau bilang, di email penerbit  tidak ada naskah novel yang kami kirim. Kaget lah kami. Ternyata alamat email yang tertera di laman fanpage itu salah dan sudah tidak berlaku. Heran juga, mengapa mereka nggak menggantinya ya? Padahal banyak juga lho yang mengakses fanpage penerbit itu. Setelah diberitahu email barunya, November kami kirim ulang pengajuan novel duet kami kesana.

3 bulan kemudian, kami mendapat pemberitahuan bahwa novel kami… ditolak! Penerbit besar itu beralasan, saat ini pihaknya tidak membutuhkan novel-novel anak seperti yang kami tulis. Mereka bilang sedang fokus menggarap novel putri-putrian.

Setelah itu, suatu hari Mbak Inni ngobrol dengan editor penerbit Kalika. Mbak Inni cerita kalau punya stok novel anak hasil duet yang mengangkat lokalitas Kalimantan Timur. Rupanya editor Kalika tertarik, dan memesan novel kami untuk diterbitkan di Kalika. Novel pun langsung kami berikan ke Kalika. Sebuah kehormatan bagi kami, karena ternyata novel kami adalah novel pertama yang diterbitkan Kalika! He he…

Kami mengusulkan kepada editor untuk menyelipi novel dengan gambar ilustrasi karya ilustrator keren Iwan Darmawan. Editor menyetujui. Kerawing dan Batu Kecubung Biru pun naik cetak.


Sekarang, aaah, rasanya legaaaa sekali melihat Si Kerawing ‘lahir’ dengan selamat ^_^. Terimakasih kepada semua pihak yang terlibat dalam kelahiran novel ini. Semoga Kerawing dan Batu Kecubung Biru menghibur dan bermanfaat. Amin

2 komentar:

  1. wah, segitu kerasnya ya perjuangan ... salut! terus berkarya mba Dhonna..... semangat... - Endah SA

    BalasHapus
    Balasan
    1. suwun dukungannya mbak Endah... semangat juga buat sampean :)

      Hapus

Terimakasih telah meninggalkan komentar 😊